
Scoot.co.id – , JAKARTA — Tekanan di pasar keuangan domestik belum mereda. Di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih dari 4 persen dan pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS, pelaku pasar juga merespons negatif penetapan outlook negatif terhadap Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings.
Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada menilai sentimen tersebut ikut memengaruhi psikologi investor. Berdasarkan pengamatannya pada perdagangan sesi pertama, pelaku pasar cenderung memilih mengurangi risiko dengan keluar sementara dari pasar.
“Dari yang saya amati pada pergerakan pasar sesi pertama, tampaknya pelaku pasar merespons negatif pemberitaan tersebut. Artinya pelaku pasar bisa dikatakan tidak nyaman dengan penilaian tersebut dan memilih keluar dari pasar untuk sementara waktu ini,” kata Reza dalam pesan singkatnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Reza, investor yang masih aktif bertransaksi juga cenderung mengambil posisi jangka pendek sebagai langkah antisipasi apabila pasar kembali melemah.
“Pelaku pasar pun tampaknya juga cenderung hit and run bagi yang masih mau trading jangka pendek sebagai langkah antisipasi jika pasar turun lebih dalam lagi,” ujarnya.
Pada perdagangan Rabu siang, IHSG sempat merosot 255,71 poin atau 4,13 persen ke level 5.939,71. Riset MNC Sekuritas mencatat pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.928 per dolar AS, arus dana asing keluar dari pasar saham yang mencapai Rp55,37 triliun hingga 2 Juni 2026, serta koreksi saham-saham konglomerasi menjadi faktor utama yang menekan indeks.
Di tengah kondisi tersebut, Moody’s Ratings sebelumnya menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif terhadap Danantara Investment Management. Penilaian itu menjadi perhatian investor karena muncul saat sentimen pasar domestik sedang berada dalam tekanan.