
Scoot.co.id JAKARTA — Pelaku pasar mengungkapkan tengah menunggu rincian kebijakan baru pemerintah terkait ekspor komoditas strategis melalui mekanisme satu pintu lewat Danantara. Saham-saham terkait komoditas pun terpantau mendingin siang ini.
Head of Investment Information Mirae Asset Martha Christina menilai wacana pembentukan badan ekspor komoditas muncul seiring dengan kebutuhan pemerintah untuk memperbesar penerimaan negara dalam waktu cepat.
Menurut dia, pemerintah kemungkinan melihat sektor komoditas seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara sebagai sumber penerimaan strategis yang dapat dioptimalkan melalui pembentukan badan ekspor.
“Negara butuh duit cepat, mungkin wacana badan ekspor ini untuk memperbesar pundi-pundi penerimaan negara. Tetapi kami masih belum melihat detailnya,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
: Resmi! Ekspor Batu Bara-CPO Lewat Danantara Sumberdaya Indonesia Mulai 1 Juni 2026
Martha mengatakan pasar saat ini masih menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah. Dia menilai kebijakan tersebut harus disertai perencanaan matang agar implementasinya tidak menimbulkan hambatan di lapangan.
“Ini uang besar. CPO dan batu bara merupakan sektor krusial, sehingga kalau perencanaannya tidak matang, eksekusinya bisa sulit,” katanya.
Dia menambahkan sentimen pasar terhadap wacana tersebut saat ini cenderung negatif karena pelaku usaha membutuhkan waktu untuk melakukan penyesuaian bisnis.
Menurut Martha, kepastian hukum dan regulasi menjadi faktor utama yang dibutuhkan investor maupun pengusaha, terutama di tengah upaya Indonesia menarik investasi masuk.
“Bagi pengusaha, untung atau rugi biasanya masih bisa diatasi selama aturannya pasti. Kepastian itu nomor satu,” tuturnya.
Berdasarkan data IDX Mobile hingga pukul 11.50 WIB, sejumlah saham komoditas mengalami tekanan. Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) terkoreksi 6% ke level Rp2.190. Kemudian saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) melemah 2,18% ke posisi Rp11.200.
Tekanan juga terjadi pada saham PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) yang turun 0,31% ke level Rp1.585
Namun, tidak seluruh saham sektor komoditas bergerak di zona merah. Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) masih mampu menguat 0,11% ke posisi Rp23.250. Adapun saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) melonjak 6,79% ke level Rp2.830.
Pergerakan saham tersebut terjadi setelah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mewajibkan penjualan sejumlah komoditas ekspor sumber daya alam (SDA) dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah sebagai eksportir tunggal.
Prabowo menyebut, tiga komoditas ekspor utama Indonesia yang akan pertama kali diterapkan mekanisme baru ini yaitu minyak kelapa sawit (CPO), batu bara dan paduan besi (fero alloy), yang disebut devisa hasil ekspornya setahun bisa mencapai US$65 miliar atau setara Rp1.100 triliun.
Penerbitan PP ini adalah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas kita. Penjualan semua hasil sumber daya alam kita mulai dengan minyak kelapa sawit, batu bara dan paduan besi, fero alloys kita wajibkan harus dilakukan penjualannya melalui BUMN yang ditunjuk Pemerintah Republik Indonesia sebagai pengekspor tunggal,” ujarnya pada rapat paripurna DPR dalam rangka penyampaian KEM PPKF 2027, Jakarta, Rabu (20/5/2026).
: Danantara Bentuk Anak Usaha Baru, Sejalan Skema Ekspor SDA Satu Pintu Arahan Prabowo
Prabowo menjelaskan, dalam mekanisme itu hasil dari setiap penjualan ekspor akan diteruskan oleh BUMN yang ditunjuk pemerintah kepada pelaku usaha pengelola kegiatan terkait. Dia menyebut skema tersebut sebagai bentuk fasilitas pemasaran atau marketing facility.
Tujuan dari regulasi baru ini adalah untuk memperkuat pengawasan dan memberantas praktik underinvoicing, transfer pricing, serta dugaan pelarian devisa hasil ekspor (DHE).
“Kebijakan ini akan mengoptimalkan penerimaan pajak dan penerimaan negara. Kita berharap penerimaan kita bisa seperti Meksiko dan Filipina,” ujarnya.