Pelat Timah (NIKL) incar laba US$ 3 juta di tahun 2026, begini strateginya

Scoot.co.id  JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) percaya diri realisasi kinerja di tahun ini bakal lebih baik dari tahun lalu. Manajemen dalam laporan hasil paparan publik menggambarkan pada tahun 2026, emiten produsen tinplate ini bisa mengantongi laba sebesar US$ 3 juta dengan pendapatan sebesar US$ 160 juta. 

Pada tahun 2025, NIKL mencetak laba bersih NIKL mencapai US$ 973.386, berbalik dari rugi sebesar US$ 18.852 pada 2024. 

Perolehan laba bersih NIKL tersebut berkat efisiensi yang dilakukan perusahaan sepanjang tahun lalu. Pasalnya, pendapatan NIKL menurun 10,21% secara tahunan menjadi US$ 139,83 juta, dari tahun 2024 sebesar US$ 155,73 juta. 

Intip Saham yang Banyak Diborong Asing Saat IHSG Terkoreksi, Rabu (15/4)

Rasa percaya diri NIKL tersebut setelah melihat kinerja pada tiga bulan di tahun ini. “Berdasarkan realisasi kinerja hingga tiga bulan pertama tahun ini, tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah masih tingginya volume impor tinplate yang masuk ke pasar domestik,” kata manajemen dalam laporan hasil paparan publik. 

Perusahaan ini mengaku juga telah menyesuaikan penjualannya dengan produk impor, terutama dari China dan Korea. Untuk memanfaatkan peluang, NIKL membuat harga produknya lebih bersaing dibandingkan produk impor. 

NIKL menjalankan strategi ini secara menyeluruh, mulai dari menghemat biaya bahan baku, meningkatkan efisiensi produksi, mengontrol biaya operasional, sampai mengelola risiko nilai tukar yang cukup berpengaruh. Selain itu, perusahaan ini mengaku berusaha mengurangi beban bunga utang.

Semua langkah ini terus dilanjutkan dan diperkuat di tahun 2026. Dengan begitu, NIKL yakin kinerjanya bisa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pencapaian perusahaan pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan hasil yang relatif lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang selanjutnya akan disampaikan secara resmi dalam laporan kinerja,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.

Bahkan kondisi geopolitik dunia termasuk konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika, Iran dan Israel dianggap menjadi peluang bagi NIKL.

Astragraphia (ASGR) Putuskan Tebar Dividen Rp 211 per Saham, Cek Jadwalnya

Gangguan di jalur penting seperti Selat Hormuz memang bisa berdampak pada industri tapi menurut manajemen ini bisa membuat harga plastik naik cukup tinggi. Padahal, plastik selama ini jadi pengganti (substitusi) yang menekan permintaan tinplate di dalam negeri. Kalau harga plastik naik, tinplate jadi lebih kompetitif.

Gangguan jalur logistik global juga bisa membuat biaya pengiriman antarnegara jadi lebih mahal. Ini bisa mengurangi daya saing produk impor, sehingga produk perusahaan punya peluang lebih besar di pasar.

“Jadi, perusahaan melihat situasi ini sebagai peluang untuk memperkuat posisinya di pasar dalam negeri,” tegas manajemen. 

Pada tahun lalu, Latinusa menyebut harus kehilangan pangsa pasar lantaran pangsa pasar impor naik drastis. Pangsa pasar Latinusa menjadi 55,69% di tahun 2025, lebih rendah dari tahun 2024 sebesar 59,71%. 

“Secara kinerja, penjualan NIKL tercatat menurun lebih dari 10%, sementara demand nasional hanya mengalami penurunan sekitar 2,4%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran pangsa pasar ke produk impor, yang pada akhirnya berdampak langsung pada penurunan market share,” pendapat manajemen.

Dengan kondisi tersebut, NIKL mengaku secara aktif berkomunikasi dengan pemerintah dan pihak terkait untuk melaporkan kondisi pasar. NIKL juga menilai produk impor, terutama dari China, menekan harga dan bisa jadi tidak bersaing secara sehat. Karena itu, perusahaan mendorong pemerintah untuk mengatur impor agar persaingan lebih adil.

Dari internal, perusahaan ini juga berusaha menekan biaya supaya bisa jual dengan harga lebih kompetitif, misalnya dengan mencari bahan baku yang lebih murah. Hasilnya belum terasa di 2025, tapi mulai ada tanda perbaikan di 2026.

Dengan harga yang makin kompetitif, pasokan yang stabil, dan layanan yang dekat dengan pelanggan, perusahaan berharap pelanggan akan kembali memilih produk lokal.

Pada tahun ini, NIKL menyebut, permintaan sudah mulai membaik. “Pada tahun 2022 permintaan nasional masih berada di kisaran 250.000 ton, sementara pada periode 2023 hingga 2025 berada di kisaran 200.000 ton. Hingga saat ini, permintaan nasional masih berada di level tersebut, namun Latinusa melihat adanya peluang perbaikan seiring dengan kondisi pasar yang mulai stabil,” ujar manajemen dalam keterbukaan informasi. 

Manajemen NIKL mengaku juga telah melakukan mitigasi dampak dari pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah yang cenderung melemah memang menjadi salah satu risiko utama bagi perusahaan seperti NIKL. Hal ini karena sebagian besar bahan baku dibeli dari luar negeri menggunakan dolar AS, sementara penjualan dilakukan dalam rupiah. Akibatnya, jika nilai tukar berubah, keuntungan perusahaan bisa ikut terpengaruh.

Tahun lalu, kerugian akibat selisih kurs berhasil ditekan, dari US$ 1,54 juta menjadi US$ 558.954. Ini menunjukkan bahwa dampak fluktuasi kurs sudah berkurang cukup signifikan.

Untuk mengurangi risiko ini, NIKL sudah melakukan beberapa langkah, seperti mengontrol lebih ketat penggunaan dan paparan mata uang asing, menyesuaikan kebijakan pembelian agar lebih aman terhadap perubahan kurs serta mengelola arus kas dengan lebih baik

Selain itu, perusahaan juga harus menyesuaikan dengan aturan Bank Indonesia yang membatasi penggunaan valuta asing dalam transaksi di dalam negeri. Hal ini membuat perusahaan perlu lebih hati-hati karena ada ketidakseimbangan antara pembelian (dalam dolar) dan penjualan (dalam rupiah).

Pada tahun 2025, pengawasan terhadap risiko kurs ditingkatkan sesuai arahan pemegang saham, dan hasilnya cukup efektif dalam menekan kerugian. Ke depan, strategi yang sama akan terus dilanjutkan dan diperkuat pada tahun 2026 agar dampak fluktuasi nilai tukar bisa semakin kecil terhadap kinerja perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *