
Scoot.co.id JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mendorong meningkatnya minat investor terhadap reksadana berbasis dolar AS. Instrumen ini dinilai semakin menarik di tengah tingginya suku bunga AS dan meningkatnya kebutuhan diversifikasi aset.
Meski demikian, investor diingatkan agar tidak hanya mengejar momentum penguatan dolar AS semata tanpa mempertimbangkan risiko dan tujuan investasi jangka panjang.
Berdasarkan data Infovesta, salah satu reksadana dolar AS dengan pertumbuhan asset under management (AUM) tertinggi ditempati Danamas Dollar kategori pendapatan tetap. Produk tersebut mencatat pertumbuhan AUM sebesar US$ 39,28 juta atau naik 33,84% sejak Desember 2025 hingga April 2026.
“Karakter produk yang relatif konservatif dan berbasis instrumen dolar AS membuatnya lebih mudah diterima investor yang mencari stabilitas dan eksposur USD,” ujar Wira kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).
Deputy CIO Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menilai reksadana dolar AS masih menarik, terutama bagi investor yang memiliki kebutuhan aset dalam denominasi dolar AS maupun tujuan diversifikasi portofolio jangka menengah hingga panjang.
Rupiah Ditutup di Level Terlemah Rp 17.529, Tertekan Isu Geopolitik dan MSCI
“Kami melihat reksadana USD masih menarik, namun investor perlu lebih selektif dan tidak semata-mata masuk karena mengejar pelemahan rupiah yang sudah terjadi,” kata Wira.
Menurutnya, posisi rupiah yang telah melemah cukup dalam hingga mencapai level Rp 17.535 per dolar AS per 12 Mei 2026 membuat sebagian potensi keuntungan dari penguatan dolar AS mulai tercermin di pasar.
Meski demikian, daya tarik reksadana berbasis dolar AS masih cukup kuat seiring tingginya suku bunga AS. Wira mencatat Fed Funds Rate saat ini masih berada di kisaran 3,50%–3,75%, sehingga instrumen berbasis dolar AS masih menawarkan carry yang menarik bagi investor.
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong investor melirik reksadana dolar AS adalah kebutuhan diversifikasi terhadap risiko pelemahan rupiah.
“Tekanan terhadap rupiah meningkat karena kombinasi penguatan dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, tensi geopolitik, serta sentimen risk-off terhadap emerging markets,” kata Wira.
Selain itu, investor mulai memanfaatkan reksadana dolar AS sebagai instrumen untuk menjaga nilai aset dalam denominasi dolar, terutama bagi nasabah yang memiliki kebutuhan masa depan dalam mata uang AS seperti pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, hingga diversifikasi aset global.
Wira menambahkan, reksadana pendapatan tetap dan pasar uang berbasis dolar AS saat ini menjadi kategori yang paling diminati investor. Instrumen tersebut menawarkan profil risiko yang relatif lebih moderat dibandingkan reksadana saham global.
Menurutnya, di tengah kondisi pasar yang volatil, investor cenderung mencari instrumen yang mampu memberikan stabilitas, pendapatan berkala dari kupon maupun yield, sekaligus eksposur terhadap dolar AS.
Untuk reksadana pasar uang dolar AS, prospeknya dinilai masih menarik selama suku bunga AS bertahan di level tinggi. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dolar AS juga masih memiliki prospek positif secara selektif, terutama jika bank sentral AS mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter.
Rupiah Melemah Tajam Rp 17.529, Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu
“Jika The Fed mulai memberi sinyal pelonggaran, potensi capital gain dari obligasi USD dapat meningkat,” kata Wira.
Di sisi lain, Wira mengingatkan investor ritel untuk memahami risiko investasi pada reksadana dolar AS, khususnya risiko pergerakan nilai tukar yang dapat bergerak dua arah.
Menurutnya, banyak investor masuk ke reksadana dolar AS setelah rupiah melemah dengan asumsi dolar AS akan terus menguat. Padahal, jika rupiah kembali menguat, imbal hasil investasi dalam rupiah dapat tergerus meskipun kinerja aset dolar AS tetap positif.
Karena itu, investor disarankan menerapkan strategi investasi bertahap, menyesuaikan pilihan produk dengan horizon investasi, serta memastikan alokasi aset dolar AS menjadi bagian dari diversifikasi portofolio dan bukan keputusan spekulatif jangka pendek.
Selain itu, investor juga perlu mencermati sejumlah indikator utama seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan rupiah, harga minyak, dan perkembangan geopolitik global sebelum masuk ke reksadana dolar AS.