Pendapatan premi asuransi jiwa kuartal I lesu, bagaimana prospeknya tahun ini?

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat total pendapatan premi senilai Rp 47,2 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut turun 0,5% year on year (yoy) dari Rp 47,50 triliun pada kuartal pertama 2025.

Berdasarkan jenis produk, produk asuransi jiwa tradisional masih menjadi kontributor utama terhadap pendapatan premi industri senilai Rp 30,1 triliun atau turun 2,9% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp 31 triliun. 

Kanal bancassurance masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan premi sebesar Rp 18,54 triliun. Pada kanal distribusi alternatif membukukan premi sebesar Rp 14,44 triliun.

Sedangkan kanal keagenan mencatatkan pertumbuhan 1,2% menjadi Rp 14,29 triliun.  Selain itu, premi bisnis baru tercatat tumbuh sebesar 5,0% menjadi Rp 27,90 triliun dan jumlah tertanggung sebesar 20,9% menjadi 118,28 juta orang.

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo, menjelaskan sepanjang kuartal pertama 2026, industri asuransi jiwa membukukan total pendapatan keseluruhan sebesar Rp 47,63 triliun atau turun 6% yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp 50,66 triliun. 

“Di saat yang sama, industri juga tetap menjalankan komitmennya melalui pembayaran klaim dan manfaat sebesar Rp 38,73 triliun kepada masyarakat atau tumbuh 1,5% yoy,” ujar Albertus dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6). 

Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri dan Internasional AAJI, Handojo G. Kusuma, mengatakan industri asuransi jiwa tetap menjaga ketahanan keuangan melalui pengelolaan investasi yang prudent dan terdiversifikasi.

Pada kuartal I 2026, total aset industri asuransi jiwa meningkat 5,8% menjadi Rp 652,89 triliun. Sementara itu, total investasi tumbuh 5,7% menjadi Rp 571,70 triliun.

Menurut Handojo, kenaikan aset dan investasi tersebut menunjukkan industri asuransi jiwa masih memiliki kondisi yang kuat. Hal ini mencerminkan kemampuan industri dalam menjaga stabilitas keuangan dan memenuhi kewajibannya kepada para pemegang polis.

“Karakteristik investasi industri asuransi jiwa yang berorientasi jangka panjang menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis,” ujar Handojo.

Ia mengatakan diversifikasi investasi industri tercermin dari penempatan portofolio pada berbagai instrumen investasi, dengan Surat Berharga Negara dan saham yang tetap menjadi instrumen utama.

Industri juga terus menjaga keseimbangan antara optimalisasi hasil investasi dan pengelolaan risiko jangka panjang di tengah dinamika pasar.

Industri asuransi jiwa mengelola investasi senilai Rp 571,7 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 5,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Surat Berharga Negara (SBN) menjadi instrumen investasi terbesar dengan nilai Rp 248,03 triliun atau setara 43,4% dari total portofolio investasi industri. Nilai investasi pada SBN meningkat 15,8% secara tahunan. 

 AAJI mengatakan, industri asuransi turut mendukung pembiayaan pembangunan pemerintah melalui penempatan dana pada instrumen SBN. Selain SBN, dana investasi juga ditempatkan pada saham sebesar Rp 112,64 triliun dan reksa dana Rp 72,45 triliun.

Ketua Bidang Literasi dan Perlindungan Konsumen AAJI, Wianto Chen, mengatakan industri asuransi jiwa terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan perlindungan masyarakat yang semakin beragam. Hal itu tercermin dari perkembangan pembayaran klaim pada kuartal I 2026, mulai dari manfaat akhir kontrak hingga perlindungan kesehatan.

AAJI mencatat klaim akhir kontrak melonjak 112% secara tahunan menjadi Rp 10,45 triliun. Kenaikan ini menunjukkan semakin banyak pemegang polis yang memasuki akhir masa perlindungan dan menerima manfaat sesuai ketentuan polis. Sebaliknya, klaim surrender turun 30,4% menjadi Rp 13,37 triliun.

Di sisi lain, industri membayarkan klaim meninggal dunia sebesar Rp 2,83 triliun pada kuartal I 2026. Sementara itu, klaim kesehatan meningkat 15,3% menjadi Rp 6,7 triliun. Menurut AAJI, tren kenaikan klaim kesehatan menjadi salah satu perhatian utama industri seiring masih tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

“Karena itu, industri saat ini terus beradaptasi melalui transformasi yang sejalan dengan kebijakan regulator, agar perlindungan kesehatan tetap dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dalam jangka panjang,” tambah Wianto.

Bagaimana Prospek Hingga Akhir Tahun?

Di samping itu Wianto mengatakan asuransi kesehatan masih akan menjadi salah satu motor pertumbuhan industri asuransi jiwa ke depan. Menurutnya, produk asuransi kesehatan merupakan salah satu kontributor terhadap pendapatan premi industri.

Ia menilai potensi pertumbuhan asuransi kesehatan masih sangat besar mengingat penetrasi asuransi kesehatan terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Dengan tingkat penetrasi yang masih rendah dan kebutuhan perlindungan kesehatan yang terus meningkat, kata Wianto, permintaan terhadap produk asuransi kesehatan diperkirakan akan terus tumbuh.

Meski demikian, Wianto menilai industri masih menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara sisi permintaan dan pasokan layanan kesehatan.

Dia berharap koordinasi antara regulator dan penyelenggara asuransi kesehatan perlu terus diperkuat agar asuransi kesehatan dapat kembali menjadi lini bisnis yang menguntungkan bagi perusahaan asuransi jiwa. Sekaligus memperluas akses perlindungan bagi masyarakat.

Dari sisi pertumbuhan premi, Wianto mencatat premi asuransi kesehatan individu turun dari Rp 36,6 triliun menjadi Rp 35,75 triliun. Sebaliknya, premi asuransi kesehatan kumpulan justru niak. 

Menurutnya, kondisi tersebut wajar di tengah kenaikan premi asuransi kesehatan dan melambatnya aktivitas ekonomi yang memengaruhi daya beli masyarakat. Faktor tersebut itu juga membuat permintaan dari segmen individu cenderung melemah dibandingkan segmen korporasi atau kumpulan.

“Sementara dari sisi asuransi kumpulan ini, tren asuransi kesehatan ini semakin naik,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *