Prospek IHSG masih cenderung tertekan, saham-saham ini menarik dicermati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan dan belum memperlihatkan sinyal pemulihan yang kuat.

Dalam sepekan terakhir, IHSG terkoreksi 8,73%, sehingga total pelemahannya sejak awal tahun mencapai 35,3%. Pada penutupan perdagangan Jumat (7/6/2026), indeks berada di level 5.594,76.

Pelemahan indeks terjadi juga seiring dengan kondisi dana arus keluar dari investor asing sebesar Rp 61,36 triliun sejak awal tahun.

Mengacu pada data statistik Bursa Efek Indonesia per Jumat (7/6/2026), kinerja IHSG saat ini juga menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu bursa dengan penurunan terdalam di dunia sepanjang tahun berjalan.

Simak Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham di Awal Juni, Selasa (2/6)

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, prospek IHSG pekan ini masih cenderung volatile dengan cenderung melemah, terutama jika tekanan outflow asing dan pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berlanjut.

Secara teknikal, area 5.500 menjadi support psikologis yang penting. Jika level tersebut ditembus, IHSG berpotensi menguji area 5.300–5.400.

Namun setelah koreksi yang cukup dalam, peluang technical rebound juga mulai terbuka apabila muncul katalis positif dari stabilisasi rupiah dan meredanya tekanan capital flow keluar. 

Di samping itu, kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena meningkatkan cost of fund, menekan valuasi, dan membuat instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik. 

Namun apabila kenaikan suku bunga berhasil menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan mengembalikan kepercayaan investor asing, dampaknya dalam jangka menengah justru dapat membantu memperbaiki market sentiment. 

Proyeksi IHSG Bulan Juni: Ada Potensi Rebound Teknikal, Tapi Masih Rawan Tekanan

“Jadi pengaruhnya terhadap IHSG sangat bergantung pada efektivitas kebijakan tersebut dalam menjaga stabilitas makroekonomi,” kata Elandry kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).

Di tengah era suku bunga tinggi, investor dapat mencermati emiten perbankan besar yang memiliki likuiditas kuat dan kualitas aset yang baik, terutama bank dengan basis dana murah (CASA) tinggi. 

Selain itu, sektor telekomunikasi, consumer staples, dan beberapa emiten komoditas tertentu relatif lebih defensif karena memiliki arus kas yang stabil dan daya tahan yang lebih baik terhadap perlambatan ekonomi maupun tingginya biaya pendanaan.

  BBCA Chart by TradingView  

Secara umum, faktor yang paling diperhatikan pasar saat ini bukan hanya level suku bunga itu sendiri, tetapi arah capital flow, stabilitas rupiah, dan kepastian kebijakan ekonomi. 

“Selama ketiga faktor tersebut belum membaik, risk appetite investor terhadap aset berisiko masih cenderung terbatas,” ucap Elandry.

Dalam kondisi seperti saat ini, investor sebaiknya lebih fokus pada manajemen risiko, menjaga porsi kas yang memadai, serta melakukan akumulasi bertahap (buy on weakness) pada saham-saham fundamental kuat. 

Rupiah Loyo Jegal Gerak IHSG, Cek Rekomendasi Saham Pekan Ini dari IPOT!

“Hindari penggunaan margin berlebihan dan memilih emiten dengan neraca sehat menjadi strategi yang lebih relevan dibanding mengejar saham yang hanya mengandalkan sentimen jangka pendek,” ujar Elandry.

Adapun Elandry membagikan sejumlah emiten yang menarik untuk dicermati dalam periode suku bunga tinggi, antara lain:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

BBCA memiliki potensi kenaikan sekitar 10% dalam jangka pendek, ditopang oleh kualitas aset yang terjaga dan dana murah (CASA) yang kuat.

2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

BMRI memiliki target kenaikan sekitar 10%, didukung pertumbuhan kredit yang solid serta profitabilitas yang tetap terjaga.

3.  PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

BBRI memiliki potensi apresiasi hingga 15%. Saham ini dinilai berpeluang mengalami rebound setelah mengalami koreksi cukup dalam, sementara fundamental perseroan masih kuat.

IHSG Menguat di Awal Juni, Tapi Ada Sinyal yang Perlu Diwaspadai

4. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) 

TLKM diproyeksikan memiliki potensi kenaikan sekitar 8% dan menarik sebagai pilihan saham defensif berkat dukungan arus kas yang stabil.

5. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

ANTM memiliki target kenaikan sekitar 10%, terutama jika harga nikel dan sentimen komoditas kembali menguat.

6. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 

MDKA berpotensi naik hingga 15%. Saham ini dinilai cocok bagi investor dengan profil risiko yang lebih agresif, seiring peluang pemulihan harga komoditas ke depan.

Secara terpisah, Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menjelaskan, tekanan terhadap IHSG bermula dari sentimen terkait MSCI, kemudian diperparah oleh berbagai isu fiskal domestik serta pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus kisaran Rp 18.000 per dolar AS.

Teguh bilang posisi IHSG saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat dinamis, dengan peluang yang relatif seimbang untuk bergerak naik maupun turun.

Kiwoom Sekuritas: Ada Sinyal Rebound Teknikal, Investor Saham Jangan Agresif Dulu

Menurutnya, arah pergerakan indeks ke depan akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap tantangan yang dihadapi.

Dalam proyeksinya, Teguh melihat IHSG masih berpotensi terkoreksi hingga di bawah level 5.000. Sebaliknya, apabila sentimen pasar membaik dan kepercayaan investor pulih, indeks juga berpeluang menguat menuju level 7.000.

“Beberapa waktu belakangan ini IHSG lebih banyak ditopang oleh saham-saham konglomerat. Saat saham fundamental turun, saham konglomerat masih menopang, mereka masih menahan laju penurunan IHSG. Kalau nantinya saham-saham konglomerat turun, itu juga akan membuat IHSG ikut turun, bahkan di bawah level 5.000,” kata Teguh kepada Kontan, Minggu (7/6/2026).

Bagi investor, Teguh menyarankan untuk mulai mencermati saham-saham berfundamental kuat yang harganya telah terkoreksi cukup dalam.

Prospek Indeks Kompas100: Sentimen Negatif Mereda, Peluang Bangkit Terbuka

Pasalnya, pelemahan pasar yang terjadi saat ini dapat membuka peluang akumulasi pada emiten berkualitas dengan valuasi yang menjadi lebih menarik dibandingkan kondisi normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *