
Scoot.co.id JAKARTA. Pasar saham Indonesia berpotensi menghadapi tekanan outflow usai pengumuman rebalancing MSCI yang dijadwalkan pada 13 Mei 2026 akibat keluarnya sejumlah emiten dari indeks
Head of Research CGS International Sekuritas Indonesia Hadi Soegiarto memproyeksikan akan terjadi outflow sebesar US$ 1,8 miliar dari konstituen MSCI Indonesia Standard Cap, dengan mempertimbangkan harga saham dan nilai tukar rupiah terbaru.
Berdasarkan probabilitas tertinggi hingga terendah, kami memperkirakan BREN, DSSA, CUAN, AMMN, dan TPIA akan dikeluarkan dari MSCI Standard Cap Index. Sementara itu, AMRT berpotensi diturunkan ke MSCI Small Cap Index.
Menakar Prospek Aliran Dana Asing di Bursa Indonesia Jelang Pengumuman MSCI
Di sisi lain, CPIN menghadapi risiko rendah untuk diturunkan ke MSCI Small Cap Index, meski skenario dasar CGS International Sekuritas tetap memperkirakan saham ini mempertahankan posisinya di Standard Cap Index.
“Dengan jumlah konstituen MSCI Indonesia Standard Cap Index diperkirakan turun dari 17 menjadi 11 saham sehingga bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets (EM) Index turun dari 0,68% menjadi 0,57%,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Senin (11/5).
Berdasarkan pola rebalancing secara historis, Hadi memperkirakan arus keluar dana sekitar US$ 1,8 miliar tersebut akan terjadi mendekati penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.
“Meski nilainya besar, volatilitas saham saat rebalancing biasanya terbatas karena investor telah mengantisipasi arus keluar dana pasif lewat aksi jual awal dan strategi bargain hunting,” jelas Hadi.
Dia menjelaskan MSCI juga kemungkinan akan memberikan komentar terkait status Korea Selatan di Emerging Markets (EM) dan potensi kenaikan status Korea akan menjadi sentimen positif bagi Indonesia dan pasar EM lainnya.
Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia Tae Yong Shim menambahkan belum menikmati rotasi dana global ke pasar emerging market. Padahal sejumlah bursa Asia sudah mengalami penguatan.
Shim mencermati aliran dana asing mulai bergerak ke sejumlah negara emerging market seperti Korea Selatan, Taiwan, Brasil, hingga Thailand. Namun, Indonesia belum menjadi tujuan utama investor global.
Cek Rekomendasi Teknikal Saham MAPA, MTEL, ISAT untuk Rabu (13/5)
“Terjadi rotasi dana ke pasar emerging market, tetapi Indonesia justru tertinggal,” jelasnya belum lama ini.
Shim juga menilai potensi pasar saham Korea Selatan yang naik kelas menjadi dari MSCI Emerging Market menjadi MSCI Developed Market dalam rebalancing kali ini akan memicu aliran dana ke emerging market lainnya. “Kenaikan status Korea Selatan ke MSCI Developed Market dapat memicu arus investasi asing besar ke Indonesia,” kata Shim.
Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi salah satu penerima limpahan dana apabila Korea keluar dari indeks emerging market. Saat ini, bobot Indonesia di MSCI Emerging Market masih relatif kecil, yakni sekitar 0,9%.
Meski demikian, Shim mengingatkan arus dana asing ke Indonesia masih tertahan oleh isu domestik. Dia menyoroti ketidakpastian terkait transparansi pasar modal dan pelemahan rupiah yang masih membebani minat investor asing terhadap aset Indonesia