Rupiah loyo lagi ke Rp 17.141 per dolar AS Rabu siang (15/4), tertekan outflow asing

Scoot.co.id JAKARTA. Pasar keuangan Indonesia kembali diwarnai sentimen negatif. Kurs rupiah terus menunjukkan tren pelemahan, terbebani oleh serangkaian tekanan yang mayoritas berasal dari dalam negeri. Pada Rabu (15/4/2026) pukul 12.50 WIB, rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,08%, memosisikan diri di level Rp 17.141 per dolar Amerika Serikat (AS).

Situasi ini menjadi sorotan, terutama mengingat kondisi geopolitik di Timur Tengah yang sebenarnya sedang mereda dalam beberapa sesi terakhir. Harapan akan berlanjutnya perundingan damai antara AS dan Iran sempat memberikan sedikit optimisme global. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, rupiah tetap rentan dan justru tertekan oleh arus keluar dana asing atau outflow.

Para pelaku pasar kini diliputi kekhawatiran atas berbagai sentimen negatif domestik yang mulai menumpuk. Salah satu indikator krusial adalah penurunan cadangan devisa Indonesia. Angka ini menyusut dari US$ 151,9 miliar pada Februari 2026 menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, memicu spekulasi mengenai stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, kondisi ekonomi Indonesia juga dihadapkan pada tantangan lain seperti penyempitan surplus neraca dagang dan pelebaran defisit anggaran. Tekanan semakin meningkat dengan adanya revisi outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga rating global terkemuka, Moody’s dan Fitch Ratings. “Rupiah masih melemah di saat mata uang regional Asia maupun mata uang utama dunia justru menguat sepekan ini,” kata Lukman, Rabu (15/4/2026), menyoroti anomali pergerakan rupiah.

Kondisi rupiah yang terus terpuruk ini juga dinilai tidak ideal jika mengacu pada fundamental ekonomi nasional yang ada. Investor menganggap bahwa imbal hasil yang ditawarkan oleh rupiah saat ini kurang menarik dan tidak sebanding dengan risiko yang melekat. Persepsi ini kian memperburuk sentimen pasar.

Peluang bagi rupiah untuk bangkit kembali atau rebound memang tetap ada, namun sifatnya terbatas dan sangat bergantung pada intervensi aktif dari Bank Indonesia (BI). Untuk mencapai penguatan yang lebih berkelanjutan, BI sebenarnya perlu menaikkan suku bunga acuan. Namun, langkah ini menimbulkan dilema besar mengingat BI bersama pemerintah memiliki rencana untuk mendukung kebijakan pelonggaran moneter.

Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah juga dihadapkan pada keharusan untuk memangkas defisit anggaran. Salah satu langkah potensial adalah dengan mengurangi atau bahkan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disinyalir menyedot porsi anggaran cukup besar. Sementara itu, ancaman eksternal berupa konflik geopolitik di Timur Tengah masih menyimpan ketidakpastian yang sewaktu-waktu dapat kembali menekan rupiah lebih jauh.

Dari analisis tersebut, Lukman Leong memprediksi bahwa jika tidak ada perubahan signifikan dalam situasi saat ini, rupiah berpotensi terus tertekan. Proyeksi terburuk menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah dapat mencapai kisaran Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026.

Astra Agro (AALI) Bagi Dividen Final Tahun 2025 Rp335 per saham

Pefindo Catat Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 59,4 Triliun Kuartal I-2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *