Rupiah sentuh level terburuk sepanjang masa, pasar tunggu hasil RDG BI

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan level terburuk sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (19/5) di tengah kuatnya dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko global maupun domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,21% secara harian menjadi Rp 17.706 per dolar AS.

Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.719 per dolar AS. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman pelemahan rupiah hari ini tidak bisa dibaca sebagai tekanan harian biasa, tetapi akumulasi dari memburuknya sentimen eksternal dan meningkatnya risiko domestik. 

IHSG Anjlok 3,46% ke 6.370 pada Selasa (19/5), CUAN, MBMA, DEWA Jadi Top Losers LQ45

Menurut Rizal, dari sisi eksternal, dolar AS masih kuat karena pasar global cenderung risk off, terutama akibat ketegangan geopolitik dan harga minyak yang tinggi. 

“Dari domestik, tekanan muncul karena pasar mulai menghitung risiko fiskal dari pelemahan rupiah dan lonjakan ICP, sementara ekspektasi terhadap respons BI juga belum sepenuhnya solid,” ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (19/5/2026). 

Ia menambahkan, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BI berpotensi menaikkan BI Rate pada 20 Mei 2026 sebagai respons terhadap pelemahan rupiah.

Untuk perdagangan Rabu (20/5/2026), Rizal memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.650 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

“Ruang penguatan masih terbatas karena tekanan tidak hanya bersumber dari faktor teknikal, tetapi juga dari persepsi risiko terkait defisit fiskal, harga minyak, kebutuhan valas korporasi, dan arah suku bunga BI,” kata Rizal.

Menurut dia, apabila BI memberikan sinyal kuat terkait stabilisasi rupiah, tekanan di pasar dapat tertahan. Namun, jika pasar menilai respons kebijakan kurang tegas, rupiah berpotensi menguji level Rp 17.800 per dolar AS.

Laba Summarecon (SMRA) Turun pada Kuartal I-2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

Rizal menambahkan, sentimen utama yang akan dicermati pasar pada Rabu (20/5) meliputi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, pergerakan indeks dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham domestik.

Ia menilai kenaikan suku bunga acuan memang dapat membantu menopang rupiah dalam jangka pendek, tetapi bukan menjadi solusi tunggal.

“Tanpa disiplin fiskal dan komunikasi pemerintah yang kredibel, pasar tetap akan melihat rupiah rentan. Jadi kuncinya bukan hanya intervensi BI, tetapi konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menurunkan premi risiko Indonesia,” kata Rizal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *