Rupiah tembus Rp17.394 per dolar AS, ini proyeksi dan faktor tekanannya

Scoot.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan kuat setelah menembus level Rp17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (4/5/2026).

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan jangka pendek di pasar valuta asing domestik belum mereda, seiring masih dominannya sentimen eksternal terhadap pergerakan aset keuangan Indonesia.

Rupiah Diproyeksikan Masih Fluktuatif dalam Jangka Pendek

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman, menilai bahwa dalam jangka pendek rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas.

Ia memperkirakan, dalam sepekan ke depan, rupiah berpotensi berada di kisaran Rp17.200 – Rp17.600 per dolar AS, dengan risiko pelemahan lebih dalam apabila tekanan eksternal meningkat, terutama akibat arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Pasar Masih Volatil, Ini Rekomendasi Reksadana untuk Investor Pemula

“Namun, level di atas Rp17.500 cenderung menjadi area tekanan tinggi (stress zone) yang akan memicu respons kebijakan lebih agresif, sehingga depresiasi ekstrem kemungkinan tetap tertahan,” kata Rizal kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Proyeksi Akhir Bulan: Stabil di Rentang Terbatas

Untuk horizon hingga akhir bulan, Rizal memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.000–Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi tersebut berlaku dengan asumsi tidak terjadi tambahan tekanan eksternal, seperti lonjakan harga minyak global maupun eskalasi ketegangan geopolitik internasional.

Dengan demikian, ruang penguatan rupiah masih terbatas, sementara risiko pelemahan tetap terbuka apabila kondisi global memburuk.

Faktor Eksternal Masih Dominan Tekan Rupiah

Secara fundamental, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal. Kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh bank sentral AS (The Fed) membuat imbal hasil aset dolar AS tetap menarik bagi investor global.

Kondisi ini memperkuat posisi dolar AS secara luas dan mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, kenaikan harga energi global juga memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan. Biaya impor energi yang meningkat berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan, sehingga menambah tekanan pada mata uang domestik.

Kinerja Reksadana April 2026 Membaik, Begini Prospeknya

Faktor Domestik: Sentimen Fiskal dan Intervensi BI

Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mulai mencermati persepsi terhadap kredibilitas kebijakan fiskal di tengah pelebaran defisit anggaran dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan program prioritas pemerintah.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing serta pasar obligasi pemerintah. Langkah ini bertujuan untuk meredam volatilitas berlebihan di pasar keuangan domestik.

Investor Beralih ke Aset Safe Haven

Di tengah ketidakpastian global saat ini, preferensi investor cenderung bergeser ke aset safe haven. Dolar AS masih menjadi pilihan utama dalam jangka pendek, diikuti emas yang berfungsi sebagai lindung nilai terhadap risiko ketidakpastian ekonomi global.

Sementara itu, bagi investor domestik, strategi yang dinilai lebih rasional adalah melakukan diversifikasi portofolio. Hal ini termasuk memanfaatkan aset berbasis dolar sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, sambil tetap mempertahankan instrumen berbasis rupiah yang menawarkan imbal hasil relatif tinggi.

Namun, potensi instrumen rupiah diperkirakan akan lebih menarik ketika stabilisasi pasar mulai terbentuk dan tekanan eksternal mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *