Saat dolar AS perkasa, cermati valas rekomendasi analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun 2026 seiring kuatnya data ekonomi AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Dalam kondisi tersebut, investor perlu lebih selektif dalam memilih aset berbasis valuta asing (valas).

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (8/6/2026) pukul 21.35 WIB, DXY telah menyentuh level 99,95 atau naik 0,77% dalam sepekan dan melonjak 2,05% dibandingkan bulan lalu. 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai dolar AS masih layak menjadi pilihan utama atau core holding dalam portofolio valas. 

Dolar AS Perkasa Efek Perang Timur Tengah, Mata Uang Asia Tertekan

Menurutnya, posisi dolar AS masih ditopang oleh ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve serta statusnya sebagai aset safe haven di tengah gejolak pasar global.

“Selama ketidakpastian global dan perbedaan imbal hasil dengan negara lain masih lebar, dolar AS tetap memiliki daya tarik yang kuat dibandingkan mayoritas mata uang utama dunia,” ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Selain dolar AS, Sutopo melihat Poundsterling Inggris (GBP) juga menarik untuk dicermati.

Prospek mata uang tersebut ditopang oleh kondisi pasar tenaga kerja Inggris yang masih relatif ketat serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank of England.

Menurutnya, faktor tersebut berpotensi menjaga ketahanan nilai tukar GBP terhadap dolar AS dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, investor dengan profil risiko lebih agresif dapat mempertimbangkan Dolar Australia (AUD).

Siang Ini, Rupiah Melemah ke Rp 16.873 per Dolar AS

Mata uang AUD dinilai memiliki peluang didukung oleh sektor komoditas dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat apabila inflasi domestik kembali meningkat.

“AUD menarik bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi karena masih mendapat dukungan dari ekspor komoditas dan arah kebijakan Reserve Bank of Australia yang relatif hawkish,” kata Sutopo.

Sebaliknya, Sutopo menyarankan investor untuk lebih berhati-hati terhadap Euro (EUR) dan Yen Jepang (JPY). Kedua mata uang tersebut dinilai lebih rentan terhadap gejolak harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, ketergantungan ekonomi kawasan Eropa dan Jepang terhadap impor energi membuat tekanan eksternal berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap prospek mata uang mereka.

AS Blokade Selat Hormuz, Rupiah Melemah ke Rp 17.143 per Dolar AS

Meski demikian, ia mengingatkan investor agar tidak mengabaikan prinsip diversifikasi dalam mengelola portofolio valas.

Penguatan dolar AS memang masih menjadi tren dominan, namun perubahan arah kebijakan bank sentral maupun perkembangan geopolitik dapat mengubah pergerakan pasar secara cepat.

Oleh karena itu, investor disarankan menyesuaikan pilihan valas dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing, serta menghindari keputusan yang semata-mata didasarkan pada pergerakan jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *