Saham big banks dilanda aksi jual asing saat BI putuskan kerek BI rate

Scoot.co.id JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks masih dilanda oleh aksi jual investor asing alias net sell dalam perdagangan sepekan terakhir.

Dalam perdagangan bursa sepekan, saham big banks kompak turun harga dengan dibarengi aksi net sell asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dilanda net sell paling besar mencapai Rp 1,01 triliun dalam sepekan, sedangkan harganya tercatat turun 3,28% menjadi Rp 5.900.

Kemudian, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat net sell Rp 407,37 miliar dengan harga sahamnya berada di 3.050. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp 112,4 miliar dengan harga saat ini di Rp 4.120.

BSI Salurkan KUR Perumahan Rp 819 Miliar hingga April 2026

Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat net sell paling minim sebesar Rp 9,69 miliar. Harga BBNI juga turun menjadi Rp 3.780.

Untuk diingat, Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) pekan ini. Naiknya BI Rate membuat banyak ekonom mewanti-wanti pertumbuhan kinerja sektor perbankan ke depannya.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kenaikan BI Rate memberi sentimen campuran terhadap pergerakan saham big banks untuk jangka pendek.

Ia menyebut, akibat pengumuman BI Rate kemarin, volatilitas saham big banks berpotensi meningkat. Akan tetapi ke depannya, pergerakan big banks akan lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental perbankan.

“Dalam jangka menengah, pergerakan saham perbankan masih akan dipengaruhi oleh kondisi likuiditas, pertumbuhan kredit, serta arah suku bunga global dan nilai tukar rupiah,” kata Azis.

Azis bilang, kenaikan BI Rate memang berpotensi menyebabkan kenaikan biaya dana alias cost of fund (COF) perbankan yang pada akhirnya dapat menggerus pendapatan margin, terutama jika persaingan pendanaan kian ketat.

BSI Salurkan KUR Perumahan Rp 819 Miliar hingga April 2026

Ia juga khawatir kenaikan BI Rate akan membuat bank ikut menaikkan suku bunga kreditnya masing-masing. Ini akan berakibat pada pertumbuhan kredit yang semakin melandai ke depannya.

Namun, Azis menilai dua kondisi tersebut belum akan terlalu terasa dalam jangka pendek. Sebab, ia menyebut kondisi permodalan dan kualitas aset perbankan domestik masih cukup solid.

Oleh karena itu, Azis mengatakan, prospek saham big banks ke depannya akan sangat bergantung dari bagaimana perbankan menanggapi kenaikan BI Rate. Jika bank berhasil menyiapkan strategi yang tepat, maka boleh jadi sahamnya pun akan naik kembali dalam beberapa waktu ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *