
Scoot.co.id , JAKARTA — Saham-saham dengan valuasi murah mulai bermunculan di tengah tekanan yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal tahun. Kondisi ini dinilai membuka peluang akumulasi bagi investor, meski risiko dari sentimen global masih membayangi pergerakan pasar.
IHSG tercatat telah terpangkas 11,71% secara year to date (YtD) ke level 7.634 per penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026). Meski sempat menguat dalam sepekan terakhir, momentum rebound tersebut dihadang oleh sentimen negatif dari kembali memanasnya konflik Timur Tengah, termasuk penutupan jalur Selat Hormuz.
Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks saham unggulan seperti LQ45 dan IDX80 juga terkoreksi masing-masing 10,36% YtD dan 10,85% YtD. Koreksi ini turut mendorong valuasi sejumlah saham blue chips berada di bawah rata-rata historisnya.
Berdasarkan pengamatan terhadap 10 saham berkapitalisasi pasar terbesar di LQ45, sebanyak 9 saham tercatat memiliki rasio harga terhadap laba (price to earnings/P/E) di bawah rata-rata lima tahun. Di sisi lain, seluruh saham dalam sampel tersebut juga mengalami penurunan harga sepanjang tahun berjalan.
Dalam beberapa kasus, pergerakan harga saham bahkan berbanding terbalik dengan kinerja fundamental emiten. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) misalnya, yang sepanjang 2025 membukukan lonjakan laba bersih hingga 767% year on year (YoY), harga sahamnya justru turun 31,80% YtD.
Kondisi ini membuat valuasi saham emiten Prajogo Pangestu tersebut menjadi lebih menarik, dengan P/E rasio di level 25,9 kali, jauh di bawah rata-rata lima tahun di level 284,94 kali.
Namun demikian, tidak semua saham menunjukkan pola serupa. Pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), penurunan harga saham sejalan dengan pelemahan kinerja. Emiten tersebut mencatat penurunan laba bersih 60,91% YoY pada 2025, yang diikuti koreksi harga saham sebesar 13,62% YtD. Meski begitu, valuasi AMMN juga terpantau lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya, dengan P/E rasio 98,1 kali dari sebelumnya 532,74 kali.
Analis Indo Premier Sekuritas (IPOT), Jovent Muliadi dan Axel Azriel dalam risetnya yang terbit 17 April 2026 menjelaskan bahwa koreksi IHSG sejak awal tahun dipicu oleh dua faktor utama, yakni peringatan MSCI terkait risiko penurunan status Indonesia ke frontier market serta revisi outlook fiskal oleh Fitch dan Moody’s. Selain itu, konflik Timur Tengah turut memperparah tekanan pasar.
Kini, sejumlah sentimen mulai menunjukkan perbaikan. Reformasi pasar modal yang dilakukan BEI dan OJK dinilai mampu meredakan kekhawatiran investor global terkait potensi penurunan peringkat Indonesia di indeks MSCI. Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3%.
“Kami memperkirakan sebagian besar kekhawatiran akan setidaknya mulai mereda dalam waktu dekat. Percakapan kami dengan investor asing menunjukkan bahwa risiko penurunan ke Frontier Market sangat kecil,” tulis riset tersebut, dikutip Minggu (19/4/2026).
IPOT Sekuritas juga menilai kinerja fundamental emiten, khususnya yang tergabung dalam indeks LQ45, belum sepenuhnya tercermin dalam harga saham. Kinerja kuartal I/2026 diperkirakan menjadi katalis penting bagi potensi pembalikan arah pasar.
Secara rata-rata, laba bersih emiten LQ45 pada 2025 tercatat mengalami kontraksi 2% YoY. Namun pada kuartal pertama 2026, kinerja tersebut diproyeksikan berbalik tumbuh hingga 16% YoY.
“Angka ini lebih tinggi dibandingkan ekspektasi konsensus untuk China (9%), India (9%), Malaysia (7%) dan Thailand (7%). Dan kami juga memperkirakan hasil kuartal I/2026 akan melampaui ekspektasi untuk sektor perbankan, komoditas seperti logam dan batu bara, serta sektor konsumen,” tulis sekuritas.
Barito Pacific Tbk. – TradingView
Sektor logam dan migas diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan dengan estimasi masing-masing 89% dan 65%. Selain itu, sektor ritel, crude palm oil (CPO), dan telekomunikasi juga diproyeksikan mencatat pertumbuhan dua digit pada 2026.
Seiring dengan potensi perbaikan tersebut, IPOT Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham seperti BMRI, BBNI, dan BBTN di sektor perbankan. Untuk sektor logam, direkomendasikan ANTM dan BBTN, sementara AADI untuk sektor batu bara serta MAPI dan GOTO di sektor konsumer.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas juga mencatat sejumlah saham LQ45 yang saat ini diperdagangkan pada valuasi undervalued, di antaranya PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kondisi fundamental ekonomi domestik masih cukup solid sehingga mampu menahan penurunan IHSG lebih dalam.
“IHSG sebenarnya sudah undervalued. Jadi ini patut dicermati pelaku pasar untuk akumulasi beli pada saham-saham pilihan mereka yang punya prospek positif,” ujar Nafan.
Indofood Sukses Makmur Tbk. – TradingView
Selat Hormuz Ditutup Lagi
Dalam sepekan terakhir, periode 13–17 April 2026, IHSG mencatat penguatan sebesar 2,35% atau 175,50 poin. Secara historis, performa IHSG cenderung positif pada periode April hingga Juni.
Namun demikian, sentimen geopolitik kembali menjadi perhatian utama pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan kembali menutup jalur Selat Hormuz akibat berlanjutnya blokade AS.
“Fokus market saat ini ialah terkait langkah Iran yang kembali menutup Selat Hormuz setelah sempat membuka jalur tersebut dikarenakan AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Maka dari itu, potensi kesepakatan damai antara AS dengan Iran meredup,” jelas Nafan.
Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam kondisi overbought atau jenuh beli, sehingga berpotensi mengalami penguatan terbatas. Indikator Stochastic dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun volume transaksi cenderung menurun.
Mirae Asset Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada area support 7.590 dan 7.482, serta resistance di 7.779 dan 7.847.
Sementara itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai konflik Timur Tengah akan berdampak pada pergerakan harga komoditas yang pada akhirnya memengaruhi kinerja emiten di sektor terkait.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
“Masih akan tetap naik-turun seiring sentimen perang Iran yang memicu pergerakan harga-harga komoditas energi,” jelasnya.
Blokade di Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu perdagangan minyak global serta meningkatkan biaya produksi dan transportasi, yang dapat berdampak pada emiten dengan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Di sisi lain, Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) menilai meskipun IHSG menunjukkan tren peningkatan, arah pergerakan pasar masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik global.
KISI memperkirakan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat namun tetap volatil, berada dalam rentang 7.190–7.960 pada pekan ini.
Fokus pasar juga akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di level 4,75%, serta data pertumbuhan kredit dan likuiditas domestik.
“Sementara sentimen eksternal seperti harga komoditas, arus dana asing dan perkembangan konflik geopolitik tetap menjadi penentu arah pergerakan IHSG,” tulis sekuritas.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.