Sentimen MSCI sudah lewat, kinerja fundamental jadi penentu prospek saham BBCA

Scoot.co.id JAKARTA. Tekanan yang sempat menghantam saham-saham perbankan besar pada akhir pekan lalu diperkirakan hanya bersifat sementara. Setelah proses rebalancing indeks MSCI selesai, pelaku pasar kini kembali mengalihkan perhatian pada faktor fundamental emiten, termasuk prospek kinerja dan pembagian dividen.

Salah satu saham yang menjadi sorotan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Pada perdagangan Jumat (29/5), saham BBCA ditutup turun 4,60% ke level Rp 5.700. Pelemahan juga terjadi pada saham perbankan besar lainnya, yakni BBRI yang terkoreksi 3,91%, BMRI turun 1,21% dan BBNI melemah 3,65%. 

Analis Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan menilai, pelemahan harga saham BBCA tidak sepenuhnya mencerminkan perubahan kondisi fundamental. 

Menurutnya, koreksi tersebut lebih dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio investor institusi global yang mengikuti perubahan komposisi indeks MSCI.

“Kalau melihat momentumnya, tekanan terbesar kemungkinan berasal dari rebalancing MSCI. Jumat kemarin adalah hari terakhir sebelum perubahan indeks efektif, maka banyak fund pasif harus menyesuaikan bobot portofolionya pada hari itu juga,” kata Jonathan dalam keterangannya, Senin (1/6).

Dan benar saja. Pada perdagangan sesi satu hari ini, Selasa (2/6), harga saham BBCA menguat 2,19% ke Rp 5.825.  Jonathan menjelaskan, rebalancing MSCI merupakan proses penyesuaian komposisi dan bobot saham dalam indeks global.

Ketika bobot suatu negara atau saham berubah, manajer investasi pasif yang menjadikan MSCI sebagai acuan perlu melakukan pembelian atau penjualan agar portofolionya tetap sesuai dengan indeks.

Meski BBCA tidak dikeluarkan dari indeks utama, saham berkapitalisasi besar tersebut tetap terdampak karena investor global melakukan penyesuaian terhadap bobot Indonesia secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti itu, saham yang memiliki likuiditas tinggi biasanya menjadi sasaran transaksi dalam jumlah besar.

“BBCA itu sangat likuid dan bobotnya besar. Jadi ketika ada fund yang harus mengurangi eksposur Indonesia, saham seperti BBCA bisa ikut tertekan meskipun fundamentalnya tidak berubah. Ini yang membuat koreksinya terlihat dalam pada hari rebalancing,” ujarnya.

Menurut Jonathan, tekanan teknikal akibat rebalancing umumnya mencapai puncaknya pada hari efektif perubahan indeks. Setelah itu, pergerakan saham akan kembali ditentukan oleh fundamental perusahaan, valuasi, sentimen pasar, serta arah aliran dana asing.

 

Ia menilai BBCA masih memiliki sejumlah faktor pendukung. Mulai profitabilitas kuat, kualitas aset terjaga, likuiditas solid, hingga basis dana murah yang besar. Selain itu, rencana BCA membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang 2026 juga berpotensi menjadi sentimen positif bagi investor.

“Kalau BBCA bisa bertahan di atas Rp 5.700 dan foreign sell mulai mereda, peluang rebound ke area Rp 5.850 sampai Rp 6.000 cukup terbuka. Tetapi kalau tekanan asing masih besar, saham ini masih bisa bergerak volatil lebih dulu,” kata Jonathan.

Setelah efek rebalancing mereda, investor akan kembali fokus pada pertumbuhan laba, kualitas kredit, kemampuan menghimpun dana murah, serta konsistensi pembagian dividen.

“Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen. Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara,” ujarnya.

Meski demikian, Jonathan mengingatkan investor tetap perlu mencermati pergerakan IHSG dan aliran dana asing. Jika tekanan jual investor asing masih berlanjut, pergerakan BBCA dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif. “Worst case dari sisi teknis MSCI berpotensi sudah lewat. Selanjutnya, BBCA akan kembali diuji oleh fundamentalnya,” kata Jonathan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *