Setelah turun kelas papan pencatatan oleh BEI, GOTO buka suara soal FTSE dan MSCI

Scoot.co.id  JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) merespons pengumuman terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI), FTSE Russell, dan MSCI terkait perubahan klasifikasi papan pencatatan serta perlakuan indeks terhadap saham GOTO.

Seperti diketahui, BEI memindahkan saham GOTO dari papan ekonomi baru ke papan pengembangan yang sudah efektif mulai 29 Mei 2026. Secara keseluruhan, ada 44 emiten yang mengalami perpindahan pencatatan.

Seiring hal tersebut, FTSE Rusell mengeluarkan saham GOTO dari FTSE GEIS Mid Cap Index. Perubahan ini efektif berlaku mulai 22 Juni 2026 setelah penutupan perdagangan 19 Juni 2026.

Head of Investor Relations GoTo Joel Ellis menuturkan perubahan tersebut merupakan penyesuaian teknis dan administratif yang didasarkan pada kriteria kuantitatif masing-masing indeks.

Begini Rekomendasi Teknikal Saham GOTO, ASII, dan TINS untuk Jumat (29/5)

Menurutnya, perubahan tersebut tidak mencerminkan kinerja maupun fundamental bisnis GOTO. Selain itu, perubahan tersebut juga tidak berdampak pada operasional maupun strategi perusahaan.

“Perkembangan tersebut merupakan penyesuaian teknis-administratif yang didasarkan pada kriteria kuantitatif indeks terkait dan tidak mencerminkan kinerja bisnis GOTO,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).

Pemindahan papan pencatatan dari Papan Ekonomi Baru ke Papan Pengembangan, kata Joel, terjadi karena GOTO tidak memenuhi salah satu persyaratan berupa pertumbuhan rata-rata tahunan pendapatan bersih selama tiga tahun sebesar minimal 20%.

Seiring perubahan papan pencatatan tersebut, saham GOTO akan dikeluarkan dari FTSE Global Equity Index Series. FTSE saat ini belum mengakomodasi emiten yang tercatat di Papan Pengembangan BEI.

Sementara, pengumuman MSCI berkaitan dengan kendala likuiditas perdagangan yang muncul akibat batas minimum harga saham yang dapat diperdagangkan di BEI. Menurut Joel, kondisi tersebut tidak mencerminkan fundamental bisnis GOTO.

GOTO juga mempertahankan panduan adjusted EBITDA grup sepanjang 2026 di kisaran Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun. Target tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 60% dibandingkan tahun sebelumnya.

Efek Kebijakan Komisi Ojol, GOTO Tetap Resilien Ditopang Bisnis Fintech

“Fundamental bisnis GoTo kuat dan kami tetap fokus pada pertumbuhan yang disiplin dan menguntungkan, serta menciptakan nilai bagi seluruh pelanggan dan pemegang saham,” kata Joel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *