Situasi memanas, Iran serang balik pangkalan AS di Kuwait

Situasi Timur Tengah kembali memanas usai Amerika Serikat dan Iran saling serang meski dalam masa gencatan senjata. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyerang pangkalan udara AS di Kuwait pada Kamis (27/5).

Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, IRGC mengatakan serangan balasan itu terjadi pada pukul 04.50 pagi waktu setempat. Mereka mengancam serangan balasan lebih keras jika AS melanjutkan agresi.

“Ini adalah peringatan serius agar musuh tahu bahwa agresi tidak akan dibiarkan begitu saja, dan jika diulangi, respons kami akan lebih tegas,” kata IRGC, Kamis (27/5) dikutip dari Antara.

Sedangkan militer Kuwait melalui akun X mereka mengatakan telah mengaktifkan pertahanan udaranya hari ini sebagai respons terhadap “ancaman rudal dan drone yang bermusuhan,”

Sebelumnya, AS menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang tengah bersiap meluncurkan drone. Militer Negeri Abang Sam juga menembak jatuh drone di Bandar Abbas yang menimbulkan ancaman di Selat Hormuz.

“Murni defensif dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata,” kata pejabat AS yang meminta namanya dirahasiakan.

Serangan terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) awal pekan ini meluncurkan serangan ke Iran selatan. Mereka menargetkan lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang diduga mencoba memasang ranjau.

Sedangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara itu berkolaborasi dengan Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz.

Pernyataan Trump ini menjawab pertanyaan seorang reporter yang meminta pendapatnya soal gagasan Iran dan Oman untuk mengawasi perdagangan di Sleat Hormuz.

“Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkannya,” kata Trump pada rapat kabinet hari Rabu (27/5) atau Kamis (28/5) seperti dikutip dari Al Jazeera.

Trump sebelumnya menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi ia memperingatkan kemungkinan munculnya serangan baru apabila perundingan gagal mencapai kesepakatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *