
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) kian memikat seiring perkiraan perseroan akan memasuki fase inflection year pada tahun 2026. Momentum krusial ini diperkirakan akan didukung oleh hadirnya sumber pendapatan baru dari segmen Liquefied Natural Gas (LNG), serta terus kuatnya tarif tanker global di tengah gejolak dinamika geopolitik yang masih berlangsung.
Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama, menyoroti mulai beroperasinya kapal LNG MT Gas Garuda sebagai katalis utama yang akan mengubah struktur bisnis BULL di masa depan. Menurutnya, tambahan armada strategis ini berpotensi besar menjadi mesin pertumbuhan baru, mengurangi ketergantungan kinerja perseroan pada bisnis tanker konvensional semata.
“Apabila utilisasi armada LNG ini berjalan optimal, kontribusinya terhadap pendapatan dan laba bersih BULL pada tahun 2026 akan semakin signifikan. Inilah yang menjadikan tahun 2026 berpeluang besar menjadi titik balik penting bagi pertumbuhan perusahaan,” jelas Ekky kepada Kontan pada Senin (16/2/2026).
Segmen LNG, sebagaimana diterangkan Ekky, umumnya menawarkan visibilitas pendapatan yang lebih baik, terutama jika kontrak berjalan sesuai rencana. Kondisi ini diharapkan secara bertahap mampu meningkatkan kualitas pendapatan BULL, memberikan stabilitas yang lebih solid bagi keuangan perusahaan.
Di samping itu, sentimen positif lainnya datang dari tingginya tarif tanker global yang dipicu oleh disrupsi geopolitik. Perubahan rute pelayaran yang menjadi lebih panjang, ditambah dengan terbatasnya suplai kapal baru di pasar, telah menopang tarif sewa untuk bertahan di level yang tinggi, berdampak baik pada margin keuntungan perseroan.
Meskipun demikian, Ekky mengingatkan bahwa industri pelayaran secara inheren bersifat siklikal. Normalisasi ketegangan geopolitik global atau masuknya pasokan kapal baru yang signifikan ke pasar berpotensi menekan tarif sewa dan profitabilitas di masa mendatang, sehingga investor perlu tetap waspada.
Dari sisi peluang bisnis, BULL juga diuntungkan oleh prospek kontrak jangka panjang dari proyek gasifikasi domestik, termasuk fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU). Kontrak multi-tahun semacam ini dinilai menjadi faktor paling menarik karena berpotensi meningkatkan stabilitas arus kas dan memperbaiki visibilitas pendapatan perusahaan secara signifikan.
Menurut Ekky, peluang tersebut bukan hanya sekadar katalis jangka pendek, melainkan juga membuka ruang untuk peningkatan kualitas bisnis yang berkelanjutan. Hal ini dikarenakan pendapatan dari kontrak jangka panjang lebih stabil dibandingkan volatilitas bisnis tanker spot.
Fenomena super-cycle di industri tanker juga berpotensi mendorong re-rating valuasi saham BULL, terutama jika tarif sewa kapal mampu bertahan di atas rata-rata historisnya. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang melekat, seperti potensi normalisasi tarif, risiko operasional armada, beban pendanaan, serta volatilitas sentimen global yang bisa mempengaruhi pergerakan harga saham BULL.
Pandangan positif terhadap BULL juga datang dari riset terpisah Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas, yang dikutip Kontan pada Selasa (17/2/2026). Mereka menilai BULL tengah memasuki fase pertumbuhan struktural yang kuat, didorong oleh kontribusi penuh kapal LNG serta peluang kontrak infrastruktur gas domestik jangka panjang.
BULL diperkirakan memiliki valuasi menarik dengan target harga Rp780 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan signifikan dari posisi saat ini. Proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa saham BULL diperkirakan akan diperdagangkan pada rasio price to book value (PBV) 2,08 kali dan price earnings ratio (PER) 22,55 kali, ditopang oleh estimasi pertumbuhan laba per saham sekitar 20%.
Dengan berbagai katalis positif tersebut, Ekky Topan merekomendasikan saham BULL masih layak dicermati dengan strategi buy on weakness. Ia melihat peluang penguatan harga menuju area Rp 700-Rp 800 dalam jangka menengah hingga panjang. Namun, Ekky menekankan pentingnya bagi investor untuk tetap disiplin menerapkan manajemen risiko, mengingat karakteristik saham di sektor pelayaran yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.