Tekanan IHSG tak kunjung reda, nilai jual bersih investor asing capai Rp55,36 triliun

Scoot.co.id JAKARTA – Investor asing tercatat membukukan nilai jual bersih mencapai Rp55,36 triliun sejak awal tahun (year-to-date/ytd) yang turut menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2 Juni 2026, investor asing membukukan jual bersih atau net sell senilai Rp1,39 triliun. Sejak awal tahun, akumulasi jual bersih investor nonresiden di pasar saham RI mencapai Rp55,36 triliun.

Dilihat dari komposisi investor di pasar saham RI saat ini, kepemilikan domestik bertambah menjadi 65% sejak awal tahun dan kepemilikan asing tersisa 35%.

Adapun, menguapnya dana asing dari lantai bursa turut menekan kinerja IHSG yang anjlok 28,35% ytd ke level 6.195. Posisi IHSG ini menempatkan pasar saham Indonesia dengan kinerja terburuk di kawasan.

: IHSG Sesi I Ambles 4,95%, Terparkir di Level 5.889,49

Sebagai perbandingan, SET Index milik Thailand menjadi jawara dengan lonjakan sebesar 26,07% ytd disusul oleh Straits Times Index STI Singapura yang naik 9,71%.

Berikutnya indeks saham Vietnam VN-Index naik 3,37% dan FTSE Bursa Malaysia KLCI Index Malaysia naik 0,18%. Adapun, indeks PSEI Indeks Filipina juga berada di zona merah namun hanya turun 2,32%.

IHSG Kembali Anjlok Tinggalkan Level 6.000

Menjelang akhir semester I/2026 ini, sentimen di pasar saham Indonesia terpantau belum juga membaik. Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (3/6/2026), IHSG ambles 4,94% ke level 5.889,48, resmi meninggalkan level psikologis 6.000.

Sejumlah saham terafiliasi konglomerat Tanah Air turut mengalami penurunan tajam hari ini. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terkoreksi 13,47% ke Rp1.670, diikuti PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) yang melemah 13,79% ke Rp750, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) melemah 12,10% ke Rp690, PT Petrosea Tbk. (PTRO) ambles 15,00% ke Rp4.080, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melemah 13,42% ke Rp1.645.

Begitu juga dengan saham-saham Happy Hapsoro, dengan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) ambles 13,17% ke Rp725, PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) terkoreksi 13,17% ke Rp290, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) ambles 12,90% ke Rp3.240, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) ambles 12,11% ke Rp4.680.

Kinerja saham milik Anthoni Salim juga tidak kalah lesu, dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) melemah 5,15% ke Rp6.450, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) melemah 4,18% ke Rp6.300, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) turun 3,54% ke Rp1.225, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) melemah 7,08% ke Rp525.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan sebelumnya menilai perhatian investor pada Juni 2026 akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas dalam menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing.

Meskipun Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga menjadi 5,25% untuk meredam tekanan eksternal, pasar dinilai masih mencermati apakah kebijakan tersebut efektif untuk menahan volatilitas rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal.

”Jika rupiah mampu menunjukkan stabilitas dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik,” katanya dalam riset, Selasa (2/6/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *