Tenaga medis di rumah sakit Bekasi ditambah untuk tangani korban kecelakaan KRL

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memastikan penanganan korban kecelakaan kereta di wilayah Bekasi dilakukan secara terkoordinasi. Pemerintah Kota Bekasi langsung memperkuat kapasitas rumah sakit sejak malam kejadian untuk memastikan seluruh korban mendapatkan layanan medis optimal.

Menurut Tri, seluruh institusi bergerak sesuai tugas dan fungsinya begitu insiden terjadi. Salah satunya Jasa Raharja yang langsung turun ke rumah sakit untuk memberikan perlindungan asuransi kepada korban.

“Untuk penanganan saya kira ini sangat super cepat, karena semua institusi berperan sesuai dengan tugas pokok fungsinya. Dari Jasa Raharja langsung meng-cover,” ujar Tri, ditemui di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4). 

Ia menjelaskan, korban berhak mendapatkan jaminan biaya dari Jasa Raharja dengan nilai pertanggungan hingga sekitar Rp20 juta sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Pemkot Bekasi juga langsung meminta seluruh rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, agar siaga menerima pasien korban kecelakaan.

“Tadi malam kita sudah minta seluruh rumah sakit, baik swasta maupun negeri, untuk siap menerima pasien,” katanya.

Tri menambahkan, selain Jasa Raharja, korban juga akan mendapat perlindungan dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Menurut dia, sebagian besar korban merupakan pekerja, sehingga berpotensi memperoleh perlindungan berlapis dari sejumlah skema jaminan sosial.

“Yang terdampak ini rata-rata para pekerja. Jadi ada tiga yang bisa meng-cover,” ujarnya.

Untuk mempercepat pelayanan, Pemkot Bekasi juga menambah jumlah tenaga medis dan tenaga pendukung di RSUD Bekasi.

“Tadi malam sudah kita perkuat RSUD kita. Jumlah tenaga medis ditambah, tenaga perawat ditambah, sampai cleaning service juga kita tambah,” kata Tri.

Ia menegaskan langkah itu dilakukan agar masyarakat yang datang ke rumah sakit tetap mendapatkan pelayanan yang layak dan nyaman, termasuk kebersihan fasilitas serta ketersediaan sarana dasar.

“Agar jangan sampai warga datang ke rumah sakit dalam kondisi kotor, kumuh, air tidak ada. Itu semua kita perhatikan sampai sedetail itu,” tuturnya.

Sebelumnya, Insiden maut ini terjadi pada Senin (27/4) malam pukul 20.55 WIB, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek nomor perjalanan 4 rute Gambir-Surabaya Pasar Turi yang bertabrakan dengan rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur (BKST).

Tim Gabungan Basarnas, KAI, dan sejumlah pihak terkait masih terus melakukan tindakan evakuasi terhadap korban kecelakaan tabrakan antara commulter line dan kereta api Argo Bromo, di Stasiun Bekasi Timur, Senin (28/4). Hingga pukul 08.45 WIB, Selasa (28/4), tercatat 14 orang meninggal dunia dan 84 korban luka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *