Terkoreksi cukup dalam, bagaimana nasib indeks saham sektor energi?

Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja indeks sektoral saham energi (IDX Energy) tampak cukup terpuruk akhir-akhir ini lantaran diterpa oleh kombinasi berbagai faktor eksternal dan internal. Kendati demikian, masih ada beberapa saham dari sektor energi yang patut jadi perhatian bagi investor.

Merujuk data di Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Energy telah terkoreksi tajam 33,56% year to date (ytd) ke level 2.958,885 hingga Selasa (2/6). IDX Energy pun menjadi indeks sektoral dengan kinerja terburuk hingga saat ini.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, pelemahan indeks saham energi cukup dipengaruhi oleh kondisi harga batubara termal yang telah mengalami koreksi cukup dalam dibandingkan level puncaknya pada 2024–2025 seiring perlambatan permintaan dari China, peningkatan produksi energi terbarukan, dan kondisi pasokan yang relatif memadai.

Sebenarnya, indeks ini sempat tersulut oleh lonjakan harga minyak dunia yang terjadi berkat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun, kenaikan harga minyak dunia tidak berlangsung secara berkelanjutan, mengingat pasar lebih fokus pada risiko perlambatan ekonomi global dan potensi peningkatan pasokan dari negara-negara produsen.

Dari faktor domestik, investor juga mulai mengantisipasi normalisasi laba emiten energi setelah menikmati periode supercycle komoditas selama beberapa tahun terakhir. Akibatnya, terjadi rotasi dana menuju sektor yang dianggap lebih prospektif terhadap penurunan suku bunga acuan dan pemulihan ekonomi domestik, seperti perbankan, teknologi, dan konsumsi.

IHSG Dibayangi Konflik Timur Tengah, Sektor Energi Bisa Jadi Penopang

“Beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor energi, terutama emiten batubara yang sebelumnya menjadi motor kenaikan indeks, mengalami tekanan karena ekspektasi penurunan laba dan dividen dibandingkan periode puncaknya,” ungkap dia, Selasa (2/6/2026).

Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, saham-saham konglomerasi energi dengan bobot besar terkoreksi bukan karena faktor fundamental, melainkan karena eksklusi indeks MSCI dan isu konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholder concentration (HSC).

Di samping itu, pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara, kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), hingga komitmen Indonesia untuk impor energi juga menimbulkan efek dua mata pisau bagi saham-saham energi.

“Terjadi rotasi dari saham-saham energi, tapi lebih dipicu oleh risiko regulasi dan aliran modal, bukan pelemahan fundamental,” imbuh dia, Selasa (2/6/2026).

Sedangkan menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, tren pelemahan IDX Energy lebih didominasi oleh faktor normalisasi harga komoditas berbasis energi setelah isu geopolitik Timur Tengah mereda. Indeks sektoral ini juga terpapar sentimen pemangkasan kuota produksi batubara nasional 2026, aksi profit taking pada saham-saham konglomerasi energi berkapitalisasi besar, serta rotasi dana keluar dari sektor tersebut di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masif sepanjang Mei 2026.

Untuk masa mendatang, indeks sektor energi berpeluang rebound selektif begitu ada kepastian regulasi kuota dan stabilisasi harga komoditas dengan katalis utama berasal dari permintaan batubara termal di Asia dan disrupsi pasokan energi global.

Peta Saham Big Cap 2026: Sektor Bank dan Energi Masih Mendominasi

“Penopang paling realistis indeks ini adalah saham batubara berbiaya rendah dan terdiversifikasi seperti ADRO dan ADMR, plus PTBA yang menarik dari sisi dividend yield serta sama-sama menawarkan valuasi murah pasca-koreksi,” ungkap dia, Selasa (2/6).

Wafi menilai, prospek IDX Energy dalam jangka menengah cukup menarik setelah tekanan rebalancing MSCI dan FTSE selesai. Sentimen yang mendukung pergerakan saham-saham energi adalah harga batubara yang masih solid, permintaan dari Asia yang kuat secara struktural, dan normalisasi RKAB pada semester II-2026 setelah kepastian kuota produksi dirilis pemerintah.

Tantangan utama bagi indeks saham energi nantinya masih terkait dengan implementasi kebijakan ekspor SDA satu pintu, pengetatan RKAB yang memotong volume produksi, hingga transisi energi terbarukan jangka panjang yang menekan valuasi energi fosil.

Wafi menyebut, saham-saham seperti AADI dan PTBA berpotensi menjadi penopang utama IDX Energy lantaran RKAB kedua emiten ini sudah disetujui, memiliki dividend payout ratio (DPR) tinggi, net buy asing yang konsisten, dan valuasi berdasarkan price to earning ratio (PER) cukup murah di kisaran 5–7 kali.

Selain itu, ada saham MEDC yang juga punya potensi menjanjikan berkat diversifikasi bisnis migas dan energi terbarukan. “ABMM dan BSSR juga atraktif dari sisi price to book value (PBV) yang rendah dengan arus kas solid,” tutur dia.

Sementara dari pandangan Arinda, sektor energi berpotensi outperform apabila terjadi kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan global, percepatan pertumbuhan ekonomi China yang meningkatkan permintaan energi, atau pelemahan dolar AS yang mendukung harga komoditas.

Selain itu, sejumlah emiten energi dinilai masih memiliki neraca keuangan yang kuat, tingkat utang rendah, dan kemampuan menghasilkan arus kas yang tinggi sehingga tetap mampu membagikan dividen menarik.

Sebaliknya, tantangan utama sektor ini adalah tren transisi energi global, potensi perlambatan ekonomi dunia yang dapat menekan permintaan komoditas, volatilitas harga energi, serta risiko regulasi baik di dalam negeri maupun internasional.

“Oleh karena itu, investor kemungkinan akan lebih selektif dan berfokus pada emiten dengan biaya produksi rendah, diversifikasi bisnis yang baik, serta kemampuan mempertahankan profitabilitas di tengah siklus harga komoditas yang melemah,” jelas dia.

Lantas, Arinda menyarankan investor untuk mencermati saham PTBA, ITMG, MEDC, dan AADI dengan target harga masing-masing di level Rp 3.000 per saham, Rp 25.000 per saham, Rp 2.000 per saham, dan Rp 13.000 per saham.

Menakar Prospek Saham-Saham Energi di Tengah Penurunan Indeks Sektor Energi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *