Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menangguhkan serangan terhadap infrastruktur energi dan pembangkit listrik Iran selama lima hari, mengklaim langkah ini bertujuan untuk membuka jalur pembicaraan guna mengakhiri konflik. Namun, klaim ini dengan cepat dibantah oleh media Iran, yang secara tegas menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Amerika Serikat. Pengumuman mendadak dari Trump ini, yang muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah, segera memicu gejolak di pasar global, dengan harga minyak anjlok lebih dari 11%.
Melalui platform media sosialnya pada Senin (23/3), Donald Trump mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah terlibat dalam “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” menuju penyelesaian konflik yang “lengkap dan total” di Timur Tengah. Meskipun demikian, ia juga menegaskan bahwa penundaan serangan tersebut sangat bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung. Ini menandakan bahwa ancaman militer tetap menjadi opsi jika pembicaraan tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Sebelumnya, Presiden AS telah memberikan ultimatum kepada Iran hingga Senin malam waktu New York untuk segera membuka kembali Selat Hormuz. Jika ultimatum tersebut tidak dipatuhi, AS bersama Israel mengancam akan membombardir pembangkit listrik negara tersebut. Menanggapi ancaman ini, Iran dengan tegas berjanji akan menyerang fasilitas energi, teknologi informasi, dan air di seluruh wilayah Timur Tengah sebagai balasan jika AS dan Israel melakukan serangan.
Di tengah ketegangan diplomatik ini, militer Israel sebelumnya telah mengumumkan penargetan terhadap infrastruktur Iran, meskipun tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai lokasi atau dampak serangan. Iran sendiri tidak tinggal diam, terus membalas serangan yang menargetkan Israel dan negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang melaporkan adanya serangan pesawat tak berawak dan rudal. Namun, laporan mengenai serangan besar atau signifikan belum terkonfirmasi.
Meskipun Trump menyatakan bahwa diskusi dengan Iran akan berlanjut sepanjang minggu ini, ia tidak merinci sifat pembicaraan tersebut atau siapa saja yang terlibat. Kesenjangan informasi ini semakin lebar dengan laporan dari kantor berita Tasnim, yang mengutip pejabat Iran yang menyatakan bahwa hingga saat ini, tidak ada negosiasi langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ketidakpastian ini diperparah oleh pasar energi yang telah dilanda kekacauan sejak pecahnya konflik yang dipicu AS pada akhir Februari, terutama dengan hampir sepenuhnya diblokirnya Selat Hormuz oleh Iran. Situasi ini oleh Badan Energi Internasional digambarkan sebagai gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi, menyebabkan harga bahan bakar lainnya melonjak lebih cepat daripada minyak mentah.
Kacaunya pasar energi sebagian besar diakibatkan oleh serangkaian pesan yang membingungkan dari Presiden AS dalam beberapa hari terakhir. Pada hari Jumat sebelumnya, Trump sempat mengisyaratkan bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk “mengurangi” upaya militer AS. Namun, pernyataan ini segera diikuti oleh ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Hormuz, disertai ancaman serangan terhadap pembangkit listrik di negara tersebut. Inkonsistensi ini menambah ketidakpastian dan volatilitas di pasar global.
Menanggapi dinamika pasar yang bergejolak, Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB AB, berpendapat bahwa “Trump jelas mencoba menurunkan harga” minyak. Namun, Schieldrop juga menekankan poin krusial bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sepenuhnya bergantung pada keputusan Iran, bukan pada kebijakan atau pernyataan Trump. Ini menyoroti batas kekuatan diplomatik dan militer AS dalam konteks geopolitik yang kompleks.
Potensi de-eskalasi konflik dapat mengarah pada pemulihan sebagian pasokan minyak global, meskipun banyak hal akan bergantung pada seberapa cepat pemilik kapal bersedia melanjutkan pelayaran melalui Selat Hormuz yang strategis. Saat ini, arus sebagian besar barang melalui jalur air tersebut hampir sepenuhnya terhenti, karena pemilik kapal enggan mengambil risiko keselamatan nyawa pelaut mereka di wilayah yang tidak stabil. Penghentian permusuhan kemungkinan besar akan meringankan dampak inflasi akibat konflik tersebut, kendati pemulihan pasokan energi mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Di tengah semua ketidakpastian ini, bank-bank Wall Street terus merevisi naik perkiraan harga minyak mereka dalam beberapa minggu terakhir. Goldman Sachs Group Inc., misalnya, sebelum unggahan Trump pada hari Senin, telah mengumumkan bahwa mereka kini memproyeksikan harga minyak mentah rata-rata mencapai US$85 per barel tahun ini, meningkat dari perkiraan sebelumnya sebesar US$77 per barel. Ini mencerminkan pandangan pasar yang lebih pesimis mengenai stabilitas pasokan energi dan dampak berkelanjutan dari ketegangan geopolitik.