
Scoot.co.id JAKARTA. Lonjakan kinerja Wall Street secara signifikan membuat peluang investasi saham di pasar Amerika Serikat (AS) tampak menjanjikan. Apalagi, pada saat yang sama pasar saham Indonesia dirundung gejolak dan kurs rupiah juga terus melemah di hadapan dolar AS.
Dalam berita sebelumnya, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,09% ke level 51.078,88 pada Senin (1/6) lalu. Pada saat yang sama, indeks S&P 500 menguat 0,26% ke level 7.599,96 dan indeks Nasdaq Composite naik 0,42% ke level 27.086,81.
Saham sektor teknologi mampu naik 2,5%, sehingga mendorong Nasdaq dan S&P 500 ke rekor penutupan tertinggi terbaru dalam serangkaian rekor.
Simak Proyeksi Emiten CPO Setelah Ekspor Satu Pintu DSI Berlaku Mulai 1 Juni 2026
Di belahan dunia lain, pasar saham Indonesia justru dilanda gejolak. Memang, hari ini (2/6) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat 1,11% ke level 6.195,43. Namun, sejak awal tahun, IHSG telah tergerus 29,18% year to date (ytd).
Kurs rupiah juga masih rentan tertekan, di mana pada Selasa (2/6) mata uang garuda di pasar spot melemah 0,19% ke level Rp 17.839 per dolar AS.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menyampaikan, dalam kondisi seperti saat ini, investasi saham di pasar modal AS cukup menarik sebagai alternatif diversifikasi portofolio, terutama ketika IHSG melemah tajam dan rupiah tertekan.
Pasar AS mampu menawarkan emiten berskala global yang kuat, likuiditas tinggi, serta eksposur ke sektor-sektor yang sulit ditemukan di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama sektor teknologi, Artificial Intelligent (AI), semikonduktor, cloud, data center, dan keamanan siber (cybersecurity).
“Reli Wall Street belakangan ini memang banyak ditopang saham teknologi dan tema AI,” kata dia, Selasa (2/6/2026).
Namun, Budi mengingatkan, investor Indonesia tetap harus hati-hati karena indeks saham AS sudah berada di area rekor tertinggi. Artinya, valuasinya tidak lagi murah dan risiko koreksi tetap besar. Saham-saham seperti Nvidia, Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, Apple, serta saham terkait infrastruktur AI memang menjadi primadona, namun kenaikan harganya juga sudah tinggi.
Di lain pihak, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia Raden Bagus Bima bilang, investasi di pasar saham AS memang menjadi alternatif yang menarik karena investor dapat mengakses perusahaan-perusahaan berskala global dengan model bisnis kuat dan pertumbuhan yang relatif konsisten, terutama di sektor teknologi yang masih mendominasi kapitalisasi pasar dan arus dana investor dunia.
Terkoreksi Cukup Dalam, Bagaimana Nasib Indeks Saham Sektor Energi?
“Selain potensi capital gain, investor Indonesia juga dapat memperoleh keuntungan tambahan apabila dolar AS menguat terhadap rupiah,” ujar dia, Selasa (2/6/2026).
Namun, secara realistis investasi saham AS tidak selalu lebih mudah atau lebih menguntungkan dibandingkan pasar domestik, meski itu tergantung dari profil dan toleransi risiko masing-masing investor. Pada dasarnya, investor harus menghadapi perbedaan zona waktu yang cukup signifikan karena perdagangan berlangsung pada malam hingga dini hari waktu Indonesia, sehingga tidak semua investor dapat memantau pasar secara optimal.
Di samping itu, proses pembukaan rekening juga berbeda, sehingga investor perlu mempelajari terlebih dahulu, termasuk soal minimum deposit dana yang dibutuhkan.
Belum lagi, terdapat risiko nilai tukar, biaya konversi mata uang, pajak atas dividen, keterbatasan akses terhadap informasi dan manajemen emiten dibandingkan investor lokal AS, serta valuasi sejumlah saham unggulan yang saat ini sudah relatif tinggi.
“Investor juga harus mempelajari kembali terkait mekanisme dan regulasi di pasar AS yang tentunya mekanisme perdagangan bisa berbeda, sehingga faktor ini juga bisa menjadi sebuah risiko,” terang dia.
Senada, Budi juga menyebut risiko kerugian yang ditanggung investor juga bakal dobel jika saham-saham AS terkoreksi signifikan dan rupiah menguat. Tak hanya itu, investor juga perlu memperhatikan aspek biaya transaksi, spread kurs, ajak dividen, risiko platform investasi saham AS, serta regulasi perdagangan saham luar negeri.
Saham-saham AS sebaiknya diposisikan sebagai aset diversifikasi bagi investor Indonesia, bukan sebagai portofolio tunggal.
“Untuk mayoritas investor, pendekatan yang lebih aman adalah masuk bertahap lewat ETF indeks seperti S&P 500 atau Nasdaq-100, lalu melengkapi dengan saham individual berkualitas jika memahami risikonya,” ungkap Budi.
Raden juga menganggap, saham-saham AS lebih tepat dijadikan sebagai instrumen diversifikasi untuk melengkapi portofolio dan memperbesar eksposur terhadap ekonomi global serta aset berbasis dolar AS, alias bukan sebagai pengganti penuh portofolio investasi di Indonesia.
Porsi investasi saham AS sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan masing-masing investor. Hal ini supaya manfaat diversifikasi dapat diperoleh optimal tanpa meningkatkan risiko investasi saham investor secara keseluruhan.