Yield SBN tenor 10 tahun melonjak ke 7,16%, ini dampaknya bagi investor dan APBN

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan di pasar obligasi domestik masih berlanjut. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 7,16% pada Senin (8/6/2026). 

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor di tengah sentimen global dan domestik yang kurang kondusif.

Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,16%, meningkat dibandingkan posisi hari sebelumnya di level 6,84%. Sementara itu, SBN tenor 5 tahun naik menjadi 7,25% dari 6,92%. Sementara itu yield SBN tenor satu tahun berada di level 7,02%. 

IHSG Diproyeksi Masih Fluktuatif pada Selasa (9/6), Ini Rekomendasi Analis

Pengamat Pasar Modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai kenaikan yield tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor, mulai dari tingginya yield US Treasury, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar domestik.

“Meski 7,16% masih di bawah level saat pandemi atau krisis keuangan global, level ini sudah menunjukkan pasar berada dalam fase tekanan yang cukup tinggi, bukan kondisi normal,” ujar Budi kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Menurut Budi, dari sisi valuasi, Surat Utang Negara (SUN) mulai menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang. Yield yang berada di atas 7% dinilai telah memberikan spread yang cukup lebar dibandingkan tingkat inflasi maupun bunga deposito. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko kenaikan yield lanjutan dalam jangka pendek yang dapat menekan harga obligasi.

Budi menambahkan, arus keluar dana asing masih menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar obligasi domestik. Pasalnya, investor asing masih memiliki porsi kepemilikan yang cukup besar di pasar SBN sehingga aksi jual bersih (net sell) dapat langsung menekan harga obligasi dan mendorong yield naik.

Selain itu, keluarnya dana asing juga berpotensi memperlemah nilai tukar rupiah yang pada akhirnya memperburuk sentimen di pasar surat utang.

Hal tersebut tercermin pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang ditutup melemah 0,84% menjadi Rp 18.187 per dolar AS pada Senin (8/6/2026).

Harga Bitcoin Tertekan ke US$ 60.000-an, Investor Diminta Lebih Waspada

Dari sisi fiskal, kenaikan yield juga perlu dicermati pemerintah. Semakin tinggi yield di pasar, semakin mahal pula biaya yang harus ditanggung pemerintah dalam menerbitkan utang baru. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, beban bunga dalam APBN berpotensi meningkat dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Bagi investor yang belum memiliki eksposur di obligasi, Budi menilai strategi buy on weakness secara bertahap mulai menarik untuk dipertimbangkan. Namun, ia mengingatkan agar investor tidak terlalu agresif menempatkan dana pada obligasi tenor panjang mengingat volatilitas pasar masih tinggi.

“Pendekatan yang lebih bijak saat ini adalah mengombinasikan tenor pendek hingga menengah sambil menunggu stabilisasi pasar,” katanya.

Ke depan, Budi menyebut terdapat tiga indikator utama yang perlu dicermati investor ritel untuk melihat apakah tekanan di pasar obligasi mulai mereda. Ketiga indikator tersebut adalah pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun, arus dana asing di pasar SBN serta pergerakan nilai tukar rupiah.

Apabila yield US Treasury mulai menurun, arus keluar dana asing mereda, dan rupiah kembali stabil atau menguat, tekanan di pasar obligasi Indonesia berpeluang berkurang sehingga mendukung pemulihan harga SBN.

Temukan Sumber Daya Tambahan, Simak Prospek Merdeka Gold (EMAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *