Astra International (ASII) fokus tiga bisnis utama, bidik pertumbuhan jangka panjang

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang usia ke-70 tahun, PT Astra International Tbk (ASII) menjadikan momentum tersebut sebagai ajang refleksi untuk memperkuat pertumbuhan perusahaan sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan melalui evaluasi strategi secara menyeluruh. Hasil tinjauan strategis itu telah diumumkan pada Senin (25/5).

Dalam reposisi strateginya, Astra ke depan akan memfokuskan perhatian pada portofolio bisnis inti yang memiliki kinerja solid. Selain itu, perusahaan juga akan menjalankan strategi pengembangan yang lebih terarah untuk lini bisnis lainnya, serta memperkuat disiplin alokasi modal guna mendorong pertumbuhan kinerja dan imbal hasil yang lebih optimal.

Langkah tersebut dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan laba jangka pendek, menengah, dan panjang.

Defisit Neraca Pembayaran Melebar, Rupiah Melemah ke Rp 17.744 Senin (25/5)

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan secara historis, Astra memiliki bisnis yang terdiversifikasi dan menjadi nilai tambah bagi perusahaan hingga kini. 

“Seiring dengan perkembangan dinamika pasar, Astra mereposisi strateginya dengan memberikan fokus pada portofolio bisnis utama yang selama ini memiliki kinerja yang kuat, yaitu otomotif, jasa keuangan serta alat berat dan solusi pertambangan,” kata Rudy dalam keterangan resminya, Senin (25/5/2026). 

ASII juga menjalankan strategi pengembangan portofolio bisnis yang terarah untuk bisnis lainnya, serta memperkuat disiplin dalam mengalokasikan modal. Secara keseluruhan, strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

Dalam menjalankan tinjauan strategis tersebut, Astra mengevaluasi setiap bisnis dari berbagai aspek, termasuk melihat tantangan pasar, optimalisasi posisi strategis masing-masing bisnis di dalam portofolio, potensi laba di masa depan dan imbal hasil investasi. 

“Ke depan, Astra akan fokus pada tiga bisnis utama tersebut yang berkontribusi sebesar 90% terhadap laba,” ujar Rudy. 

Bisnis Otomotif

Rudy bilang bisnis otomotif tidak hanya berfokus pada penjualan kendaraan baru namun terus mengoptimalkan seluruh ekosistem otomotif Grup Astra yang luas yang telah dibangun selama beberapa dekade mencakup penjualan kendaraan baru dan bekas, penjualan suku cadang, layanan purna jual, dan didukung oleh jaringan pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus memperkuat posisi Astra sebagai pemain utama yang relevan di industri otomotif. 

Jasa Keuangan

Bisnis jasa keuangan akan fokus untuk mengoptimalkan seluruh potensi ekosistem melalui beragam produk dan layanan untuk berbagai segmen pelanggan. 

Alat Berat dan Solusi Pertambangan

Untuk bisnis alat berat dan solusi pertambangan, perusahaan akan fokus  pada penguatan ekosistem rantai pasok pertambangan serta pengembangan sumber pertumbuhan baru untuk memperkuat daya saing dan penciptaan nilai jangka  panjang.  

Terkait portofolio selain ketiga bisnis tersebut, Astra akan menjalankan strategi pengembangan portofolio bisnis yang terarah dengan menekankan pada keselarasan strategis dengan ekosistem dan kapabilitas Astra dan  membangun kemitraan strategis untuk melengkapi kapabilitas serta kebutuhan pertumbuhan jangka panjang. 

Selain itu, Astra akan memperkuat disiplin dalam alokasi modal dan terus melakukan belanja modal untuk pemeliharaan, pembayaran dividen yang konsisten, investasi yang memberikan pertambahan nilai dan melakukan share buyback pada tingkat valuasi yang tepat.

Adapun Astra juga berencana mengalokasikan sekitar Rp 8 triliun untuk program pembelian kembali saham selama 12 bulan ke depan.

Kinerja Laba dan Dividen

Selama sepuluh tahun terakhir antara 2015-2025, laba bersih Astra telah bertumbuh lebih dari dua kali lipat dari Rp 15 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 33 triliun pada tahun 2025 atau meningkat sebesar 126%. 

Pembagian dividen kepada pemegang saham juga mengalami peningkatan 245% dari Rp 113 per share di tahun 2015 menjadi Rp 390 per share pada tahun 2025.

Rupiah Jeblok, Ditutup di Rp 17.744 Per Dolar AS Hari Ini (25/5): Rekor Terburuk Lagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *