
Scoot.co.id JAKARTA — Pelaku industri perbankan menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) menambah insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) hingga 0,5% dari dana pihak ketiga (DPK). Meski begitu, perbankan masih mencermati dampaknya terhadap ekspansi kredit di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih dinamis.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan, tambahan insentif KLM sejalan dengan berbagai bauran kebijakan otoritas yang diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Sejalan dengan itu, BCA senantiasa mencermati perkembangan suku bunga acuan, berbagai parameter makroekonomi, dinamika pasar serta kondisi likuiditas perbankan baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana,” kata Hera kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (24/5/2026).
Selain itu, Hera menyebut bahwa perseroan secara berkala melakukan reviu kebijakan suku bunga kredit agar tetap berada pada level yang dapat diterima pasar, dengan tetap memerhatikan daya beli masyarakat.
: BI Rate Naik 50 Bps, Bank Indonesia Longgarkan Aturan RIM dan Tambah Insentif KLM
Dia menambahkan, pertumbuhan kredit akan berjalan mengikuti kondisi perekonomian. Dengan dukungan likuiditas yang memadai, BCA akan terus mendorong penyaluran kredit di berbagai segmen dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Per April 2026, kredit BCA secara bank only tercatat mencapai Rp965 triliun. Perseroan optimistis target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini tetap tercapai.
“Ke depan, kami akan terus mendorong penyaluran kredit yang berkualitas sepanjang 2026 dengan menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Branch Business Hana Bank Hendri Setiawan menilai tambahan insentif likuiditas dari BI berpotensi membantu industri perbankan menjaga stabilitas pendanaan di tengah tekanan suku bunga dan pelemahan daya beli masyarakat. Meski demikian, dampak kebijakan tersebut masih perlu dicermati di tengah kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps).
Di sisi lain, Hendri menyebut perseroan saat ini belum menghadapi persoalan likuiditas sehingga masih dapat mengelola dana nasabah dengan baik.
Dia mengatakan pipeline kredit perseroan pada kuartal I/2026 masih cukup terjaga. Sebagai informasi, penyaluran kredit Hana Bank pada 2026 ditargetkan sebesar Rp43,30 triliun. Hingga akhir Maret 2026, kredit Hana Bank mencapai Rp39,67 triliun, meningkat 3,63% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp38,38 triliun.
Namun, Hana Bank tetap mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan dampak berbagai kebijakan pemerintah terhadap pelaku usaha.
“Tentunya kita akan melihat bagaimana ke depan, dalam jangka pendek, respon dari nasabah dan respon dari market itu sendiri,” kata Hendri dalam Media Gathering Hana Bank di Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
Hana Bank juga memastikan belum memiliki rencana merevisi target pertumbuhan kredit tahun ini meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka ruang penyesuaian target pada pertengahan tahun.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Mei 2026, otoritas moneter memutuskan memperkuat KLM dengan memberikan tambahan insentif hingga 0,5% dari DPK, khususnya bagi bank yang rasio intermediasinya sesuai target BI tetapi belum memanfaatkan insentif KLM secara maksimal.
Kebijakan yang efektif berlaku mulai Agustus 2026 itu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan yang lebih tinggi dan dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian.