Bitcoin konsolidasi di tengah geopolitik, analis buka peluang ke US$ 80.000

Scoot.co.id JAKARTA. Pergerakan pasar aset kripto global masih dibayangi volatilitas tinggi seiring meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. 

Kondisi ini turut memicu pergeseran arus investasi ke sejumlah instrumen alternatif, termasuk Bitcoin.

Analis pasar aset kripto, Fahmi Almuttaqin, melihat dinamika konflik global mulai mengubah cara pandang investor terhadap Bitcoin. Ia menilai, aset kripto tersebut kini tidak lagi sepenuhnya diperlakukan sebagai aset berisiko.

“Perilaku pasar saat ini menunjukkan bahwa Bitcoin mulai diposisikan sebagai lindung nilai digital oleh sebagian pelaku pasar,” ujar Fahmi pada keterangan rilisnya, Kamis (16/4).

Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.141 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (16/4)

Secara teknikal, Fahmi mencatat Bitcoin sempat menembus level US$ 75.000 sebelum mengalami koreksi akibat aksi ambil untung. Namun, tekanan tersebut relatif terbatas dan diikuti fase konsolidasi yang cenderung stabil.

Menurutnya, pergerakan harga saat ini mengindikasikan pembentukan area support baru yang cukup kuat. Kondisi ini berpotensi menjadi pijakan bagi kenaikan lanjutan.

“Pasar sedang membangun fondasi support sebelum melanjutkan tren kenaikan menuju US$ 80.000,” kata Fahmi.

Ia menambahkan, tingginya ketidakpastian global justru menjadi uji ketahanan bagi struktur pasar Bitcoin. Konsolidasi yang terjadi di tengah tekanan tersebut mencerminkan adanya kekuatan permintaan.

Di sisi lain, aktivitas investor institusi masih menjadi penopang utama pasar. Permintaan dari institusi dinilai mampu menyerap pasokan Bitcoin di pasar, sehingga membantu menahan tekanan jual.

Hal ini sekaligus memperkuat indikasi bahwa pergerakan Bitcoin semakin didorong oleh akumulasi jangka panjang, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.

Bagi investor di pasar berkembang seperti Indonesia, pergerakan Bitcoin juga kerap menjadi indikator sentimen risiko global, termasuk sebagai alternatif lindung nilai terhadap pelemahan mata uang.

Meski begitu, Fahmi menyarankan investor tetap berhati-hati. Strategi akumulasi bertahap dinilai lebih relevan di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

Fitch Afirmasi Peringkat AAA(idn) Untuk KPEI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *