Harga Emas Melesat: Sentimen The Fed Jadi Angin Segar, Kinerja Tahunan Terkuat Sejak 1979?
JAKARTA, Scoot.co.id – Harga emas spot menunjukkan taringnya dengan melampaui US$ 4.220 per ons pada hari Jumat (28/11), mencapai level tertinggi dalam sebulan. Momentum ini menempatkan emas di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan bulanan keempat berturut-turut.
Seperti dilansir dari Tradingeconomics pada Minggu (30/11), lonjakan harga emas ini didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Desember. Indikasi “dovish” dari sejumlah pejabat The Fed, ditambah dengan rilis data ekonomi yang kurang menggembirakan, semakin memperkuat keyakinan akan pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat tersebut.
Lebih lanjut, Kevin Hassett, yang digadang-gadang sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell sebagai ketua The Fed, turut memberikan sinyal dukungan terhadap suku bunga yang lebih rendah. Pernyataan ini semakin meyakinkan pasar akan perubahan arah kebijakan moneter.
Kondisi ini secara signifikan meningkatkan probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi lebih dari 80%. Bahkan, para pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan adanya sekitar tiga kali penurunan suku bunga tambahan hingga akhir tahun 2026.
Selain sentimen The Fed, permintaan emas juga ditopang oleh aksi pembelian besar-besaran yang dilakukan oleh bank-bank sentral di berbagai negara. Arus masuk non-sovereign yang kuat ke dalam Exchange Traded Funds (ETF) juga menjadi faktor pendorong. Kombinasi antara kedua faktor ini, ditambah dengan penurunan imbal hasil riil, berpotensi mengantarkan emas pada kinerja tahunan terkuatnya sejak tahun 1979.
Ringkasan
Harga emas spot melonjak hingga menyentuh level tertinggi dalam sebulan, melampaui US$ 4.220 per ons pada hari Jumat. Lonjakan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan Desember, dipicu oleh indikasi “dovish” pejabat The Fed dan data ekonomi yang kurang baik.
Selain itu, permintaan emas juga didorong oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral dan arus masuk ETF yang kuat. Kombinasi faktor-faktor ini, ditambah penurunan imbal hasil riil, berpotensi membawa emas mencatatkan kinerja tahunan terkuat sejak tahun 1979.