Ganjar dan Anies soroti anjloknya rupiah, sentil pemerintah

Dua tokoh politik terkemuka, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan, baru-baru ini menyuarakan keprihatinan mendalam terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mantan pesaing Presiden Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden 2024 ini secara terpisah mendesak pemerintah untuk bertindak serius, menumbuhkan kembali kepercayaan publik, dan mengambil langkah konkret demi menstabilkan perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Ganjar Pranowo melalui akun Instagram-nya pada Kamis (4/6). Ia mengunggah sebuah pemberitaan yang menyoroti nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 18.040 per dolar Amerika Serikat, sebuah level yang mengkhawatirkan. Dalam unggahannya, Ganjar secara tegas menyerukan, “Segera kembalikan kepercayaan publik!” Ia memaparkan tujuh poin penting yang menurutnya harus menjadi fokus pemerintah.

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu merinci langkah-langkah yang krusial. Pertama, mengembalikan personel lembaga negara sesuai fungsi utamanya. Kedua, mendorong meritokrasi berbasis kompetensi. Ketiga, melakukan penghematan anggaran dari pusat hingga daerah tanpa pengecualian. Keempat, menggenjot ekspor dengan memberikan insentif serta regulasi yang adil. Kelima, menegakkan aturan secara tegas. Keenam, menjaga kebebasan pers. Dan ketujuh, mewujudkan warga negara yang bebas dari rasa takut.

Tidak hanya Ganjar, kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh Anies Baswedan beberapa waktu sebelumnya, tepatnya pada 20 Mei lalu, melalui platform Instagram pribadinya.

Anies Minta Kebijakan Pemerintah Konsisten

Anies menyoroti bahwa dalam situasi genting seperti saat ini, masyarakat dan pelaku pasar sangat membutuhkan kepastian, bukan sekadar ketenangan semu. Gubernur Jakarta periode 2017-2022 ini mengkritik pejabat yang kerap melontarkan komentar enteng di tengah kondisi ekonomi yang serius. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah telah menciptakan kebingungan di kalangan masyarakat dan pasar. “Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” ungkap Anies, menggambarkan dampak negatif ketidakpastian tersebut.

Faktor ketiadaan teladan dari pemerintah juga menjadi sorotan Anies. Ia menyayangkan adanya pemborosan anggaran yang masih dilakukan, sementara di sisi lain masyarakat diminta untuk berhemat. Anies menegaskan bahwa peringatan mengenai kondisi ekonomi yang tidak menentu ini telah datang dari berbagai pihak, mulai dari ekonom dalam negeri, lembaga keuangan internasional, hingga media massa.

Anies menolak anggapan bahwa semua pihak tersebut keliru. “Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan adalah hajat hidup ratusan juta orang,” tegasnya, menyoroti urgensi dan dampak luas dari situasi ini. Oleh karena itu, Anies mendesak pemerintah untuk bersikap jujur, memberikan arah kebijakan yang konsisten, serta menunjukkan kepemimpinan yang solid, yang diyakininya akan mampu menenangkan pasar dan masyarakat. Ia juga berpesan kepada publik untuk “bersiaplah. Suka tidak suka, masa-masa berat masih ada di depan kita,” sebagai pengingat akan tantangan yang mungkin masih akan dihadapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *