GOTO diproyeksi bisa balik untung di 2026, begini rekomendasi analis

Scoot.co.id JAKARTA. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diproyeksi mencetak laba pada tahun 2026. Segmen layanan financial technology (fintech) diproyeksi menjadi salah satu penopang kinerja pada tahun 2026.

Peter Milliken, Research Analyst Deutsche Bank melihat hasil kinerja kuartal IV-2025 melanjutkan tren peningkatan keuangan yang signifikan selama 18 bulan terakhir.

EBITDA yang disesuaikan kuartal IV-2025 menjadi Rp 672 miliar. Sementara secara keseluruhan tahun 2025 EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 2 triliun, berada di atas target manajemen yang sebesar Rp 1,8 triliun – Rp 1,9 triliun. 

INTP Siap Gelontorkan Rp 750 Miliar, Ini Tujuannya

Manajemen memperkirakan EBITDA yang disesuaikan akan berlanjut tumbuh dengan target Rp 3,2 triliun sampai Rp 3,4 triliun pada tahun 2026. 

“Peningkatan ini mencerminkan titik balik yang dicapai di sektor fintech, yang kini menguntungkan dan menjadi pendorong laba, yang diharapkan akan menambah sekitar dua pertiga dari peningkatan pendapatan grup yang diproyeksikan untuk tahun 2026,” ujar Peter dalam risetnya pada 12 Maret 2026. 

Peter mengatakan, pertumbuhan EBITDA yang disesuaikan didorong oleh pertumbuhan iklan yang kuat yang menunjukkan keberhasilan strategi monetisasi. Pengeluaran insentif yang terkendali mencerminkan manajemen biaya yang efisien. Serta skala ekonomi yang mendapatkan manfaat dari efisiensi operasional.

Kampanye baru perusahaan bertajuk harga murah setiap hari, yang menggantikan promosi berbasis insentif, telah berhasil meningkatkan profitabilitas. Perusahaan menargetkan pertumbuhan satu digit tinggi pada tahun 2026 dan sedang membangun kemampuan di pasar massal, untuk meningkatkan efektivitas biaya dan prediktabilitas. 

Salah satu upaya tersebut adalah zonasi, dengan model kepadatan tinggi lokal yang diupayakan di tempat yang sesuai, dan upaya lainnya adalah penggabungan. Perusahaan mengharapkan hal ini akan lebih terlihat pada semester II – 2026 dan karenanya mengharapkan pertumbuhan akan condong ke akhir tahun.

Christopher Rusli, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat segmen fintech dan On-Demand Services (ODS) GOTO sama-sama menunjukkan kinerja yang kuat, didorong oleh peningkatan keterlibatan, monetisasi, dan efisiensi operasional. 

Segmen Digital Jadi Andalan Metrodata Electronics (MTDL), Cek Rekomendasi Analis

Fintech mengalami pertumbuhan yang kuat dengan Monthly Transacting Users (MTU) naik 30% secara year on year (YoY), mendukung pertumbuhan gross transaction value (GTV) inti sebesar 62% YoY pada kuartal IV-2025 dan 54% YoY untuk tahun 2025. Pendapatan bersih segmen ini naik 62% YoY menjadi Rp 5,8 triliun dan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp 497 miliar, menandai profitabilitas berkelanjutan yang didorong oleh ekspansi pinjaman dan manajemen risiko yang disiplin. 

Sementara itu, ODS mencatat pertumbuhan GTV yang stabil sebesar 8% YoY menjadi Rp 66,5 triliun pada 2025, dengan pendapatan bersih meningkat 16% YoY menjadi Rp 12,6 triliun dan EBITDA yang disesuaikan meningkat dua kali lipat (naik 105% YoY) menjadi Rp 1,4 triliun. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan bauran produk, pendapatan iklan yang lebih tinggi, optimasi berbasis AI, dan pertumbuhan berkelanjutan di seluruh segmen mobilitas dan pengiriman.

“Kami percaya bahwa peningkatan fundamental GOTO di setiap kuartal pada akhirnya akan mencapai titik di mana profitabilitas sudah di depan mata,” ujar Christopher dalam risetnya pada 7 April 2026.

Gani, Analis OCBC Sekuritas memproyeksikan pengungkit keuntungan utama GOTO pada tahun 2026 adalah segmen GoTo Financial (GTF) karena telah mencapai skala yang dibutuhkan untuk menghasilkan keuntungan. 

“Segmen ODS akan terus menyeimbangkan profitabilitas dengan pertumbuhan,” ucap Gani kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Gani melihat pada segmen ODS, berbagai bauran produk seperti “GoFood Hemat” dan “Express” serta kemitraan dengan para komuter diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sehingga berdampak positif pada EBITDA yang disesuaikan.

Lalu, pada segmen GTF, GOTO akan terus memanfaatkan ekosistemnya, sambil menawarkan produk pembayaran tunda dan pinjaman dengan bersinergi dengan Bank Jago. Melalui keunggulan AI-nya, GOTO diharapkan dapat mempertahankan kualitas pinjaman. 

Industri Baja 2026 Masih Menantang, Ini Prospek Saham KRAS dan ISSP

Gani tetap optimis terhadap GOTO karena peningkatan tingkat profitabilitasnya dengan kemungkinan mencapai laba bersih pada tahun 2026, posisi pasar yang stabil untuk ODS dan pasar pinjaman yang belum dimanfaatkan, berkat penetrasi aplikasi GoPay yang terus meningkat serta sinergi dalam ekosistem.

Christopher memproyeksikan pendapatan GOTO pada tahun 2026 mencapai Rp 18,49 triliun. Dia juga memproyeksikan GOTO mencetak laba bersih mencapai Rp 439 miliar. Adapun pada tahun 2025 GOTO mengantongi pendapatan Rp 18,32 triliun dan masih mengalami rugi Rp 1,18 triliun.

Peter, Christopher, dan Gani merekomendasikan Buy saham GOTO dengan target harga masing-masing Rp 95 per saham, Rp 100 per saham, dan Rp 110 per saham. Risiko terhadap rekomendasi tersebut meliputi meningkatnya persaingan, hambatan ekonomi makro, dan potensi ketidakstabilan dalam tingkat kredit macet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *