Harga batubara tetap kuat di tengah gejolak energi global, ini penopangnya

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga batubara masih menunjukkan penguatan di tengah meningkatnya volatilitas pasar energi global.

Namun, berbeda dengan minyak mentah yang terdorong sentimen geopolitik Timur Tengah, pergerakan batubara cenderung lebih dipengaruhi faktor fundamental permintaan dan pasokan.

Melansir data Bloomberg per Rabu (3/6), harga batubara berada di level US$ 148 per ton. Angka tersebut naik 2,21% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar US$ 144,80 per ton.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan sentimen utama yang memengaruhi harga batubara saat ini berasal dari sektor kelistrikan dan aktivitas manufaktur di Asia, khususnya China sebagai konsumen terbesar batubara dunia.

Mesir Naikkan Harga Bahan Bakar Hingga 17% di Tengah Gejolak Energi Global

Menurut Wahyu, meskipun harga minyak dan gas yang tinggi membuat batubara kembali dilirik sebagai sumber energi alternatif, tetapi ruang kenaikan harga masih terbatas karena pasokan global relatif memadai.

“Pergerakan batubara lebih banyak ditentukan oleh fundamental permintaan utilitas dan manufaktur di Asia. Di sisi lain, produksi domestik yang kuat di negara-negara konsumen utama serta transisi energi yang terus berlangsung membuat kenaikan harga tidak terlalu agresif,” ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).

Wahyu menilai respons harga batubara terhadap memanasnya konflik di Timur Tengah jauh lebih terbatas dibandingkan minyak. Hal ini tercermin dari kenaikan harga batubara yang relatif tipis dibandingkan lonjakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.

Ia menjelaskan, pusat produksi dan konsumsi batu bara dunia terkonsentrasi di kawasan Asia-Pasifik, seperti China, India, Indonesia, dan Australia. 

Di Tengah Krisis Energi Global, Indonesia Perlu Cari Titik Seimbang Harga dan Pasokan

Berbeda dengan minyak, rantai pasok batubara tidak bergantung pada Selat Hormuz yang menjadi salah satu titik rawan dalam konflik Timur Tengah.

Selain itu, kondisi pasar domestik China saat ini dinilai masih cukup seimbang. Produksi batu bara lokal terus ditingkatkan untuk menjaga ketahanan energi nasional, sementara persediaan di pelabuhan utama juga berada pada level yang tinggi.

Menurut Wahyu, kombinasi antara produksi domestik yang kuat, kebijakan pemerintah China, dan ekspansi energi terbarukan membuat permintaan batu bara impor tetap terkendali sehingga risiko lonjakan harga akibat kepanikan pasar relatif rendah.

Ke depan, harga batubara diperkirakan bergerak stabil. Berdasarkan tren pergerakan di bursa ICE Newcastle dan pasar spot Asia, Wahyu memproyeksikan harga batu bara berada dalam rentang konsolidasi US$ 135 hingga US$ 155 per ton dalam beberapa bulan mendatang.

“Sektor pembangkit listrik masih akan menopang harga dasar batu bara, tetapi kapasitas pasokan global yang memadai menjadi faktor yang mencegah lonjakan harga secara ekstrem,” kata Wahyu.

Secara keseluruhan, Wahyu memperkirakan harga batu bara sepanjang tahun ini bergerak dalam rentang US$ 110-US$ 160 per ton dengan rata-rata sekitar US$ 135 per ton.

Percepatan Hilirisasi Nikel Kian Mendesak di Tengah Krisis Energi Global

Bagi Indonesia, harga batu bara yang masih bertahan di kisaran US$ 148 per ton tetap memberikan dukungan terhadap kinerja ekspor dan perolehan devisa.

Namun, manfaat tersebut berpotensi berkurang apabila harga minyak terus meningkat karena Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati sejumlah indikator utama dalam waktu dekat, terutama data indeks PMI manufaktur China, kebijakan perdagangan komoditas, serta perkembangan konsumsi listrik di negara tersebut.

Wahyu menambahkan, pertumbuhan pusat data dan meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di China juga berpotensi menjadi katalis tambahan bagi permintaan listrik yang pada akhirnya dapat menopang konsumsi batu bara dalam jangka menengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *