Inspeksi keselamatan tambang di China mendorong kenaikan harga batubara

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga batubara melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini di tengah kekhawatiran pasar terhadap pasokan dari China.

Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (3/6/2026), harga batubara berada di level US$ 148 per ton. Angka tersebut naik 2,21% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang sebesar US$ 144,80 per ton.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai kenaikan harga batubara termal dipicu oleh terganggunya pasokan domestik di China setelah ledakan tambang di Provinsi Shanxi.

Rupiah Jisdor Melemah 0,6% ke Rp 18.039 per Dolar AS pada Kamis (4/6/2026)

Menurutnya, insiden tersebut mendorong pemerintah China melakukan inspeksi keselamatan tambang secara besar-besaran sehingga berpotensi menekan produksi batubara dalam jangka pendek.

“Insiden ini membongkar jaringan penjualan ilegal yang memicu inspeksi keselamatan nasional secara masif oleh Beijing, sehingga secara langsung mengoreksi angka produksi jangka pendek di tengah ketatnya fokus menjaga ketahanan energi,” ujar Sutopo kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).

Meski demikian, penguatan harga batubara masih relatif terbatas dibandingkan lonjakan yang terjadi pada komoditas energi lain seperti minyak mentah. 

Sutopo menilai pasar batubara memiliki karakteristik yang lebih lokal sehingga dampak gejolak geopolitik global tidak sebesar yang terjadi di pasar minyak.

Ia menjelaskan, investor melihat konflik yang kembali memanas di Timur Tengah belum memberikan pengaruh signifikan terhadap perdagangan batubara. 

IHSG Anjlok, BEI Klaim Kinerja Fundamental Emiten Tetap Kuat

Berbeda dengan minyak yang sangat bergantung pada jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, distribusi batubara dinilai tidak terlalu terpengaruh oleh risiko gangguan tersebut.

Selain itu, kebijakan pengendalian harga energi yang diterapkan pemerintah China juga turut membatasi ruang kenaikan harga. Intervensi tersebut membuat pergerakan batu bara cenderung lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap sentimen spekulatif global.

Bagi Indonesia, kondisi ini dinilai masih memberikan dukungan bagi kinerja perdagangan. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, harga yang bertahan di atas US$ 145 per ton berpotensi menopang nilai ekspor komoditas.

Di saat yang sama, harga minyak mentah yang masih berada di bawah level puncaknya membantu meredakan tekanan impor energi. Kombinasi tersebut dapat menjaga surplus perdagangan dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ke depan, pasar akan mencermati efektivitas inspeksi keselamatan tambang di Shanxi, kebijakan ekspor komoditas dari negara-negara produsen serta perkembangan permintaan listrik di kawasan Asia. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah harga batu bara dalam beberapa waktu mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *