Ledakan investor muda, risiko FOMO kian mengancam pasar saham

Scoot.co.id , JAKARTA — Ledakan jumlah investor ritel yang menembus 20,3 juta single investor identification (SID) hingga akhir 2025 justru memperlihatkan rapuhnya fondasi pasar karena dipenuhi pelaku dengan pemahaman investasi yang masih terbatas.

Masuknya generasi muda melalui aplikasi digital dan media sosial mempercepat pertumbuhan tersebut. Akses yang semakin mudah membuat investasi kian populer dan menjangkau masyarakat dalam waktu relatif singkat.

Namun, kemudahan itu juga mengubah cara investor mengambil keputusan. Banyak transaksi dilakukan tanpa analisis yang memadai, melainkan hanya mengikuti arus informasi yang sedang ramai diperbincangkan.

: Investor Muda Makin Dominan, OJK Ingatkan Bahaya Investasi Ilegal

Founder Cak Investment Cakra Praditya melihat pola tersebut semakin dominan di kalangan investor ritel.

“Banyak keputusan beli retail hari ini bukan berdasarkan analisis, tapi berdasarkan siapa yang bilang,” ujarnya.

Menurut dia, investor kini lebih sering membeli nama saham dibanding memahami bisnis yang berada di baliknya. Fokus utama bergeser pada momentum pergerakan harga, bukan pada nilai fundamental perusahaan.

Dalam kondisi pasar yang volatil, perilaku tersebut membuat investor mudah masuk pada harga yang sudah tinggi. Banyak pembelian terjadi setelah saham mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat.

Sementara itu, pengamat pasar modal Budi Frensidy menilai kondisi ini memperbesar risiko kerugian. Investor ritel cenderung membeli saham di puncak harga dan masuk ke saham-saham dengan likuiditas rendah.

Ketika pasar berbalik arah, investor menghadapi kesulitan untuk keluar. Tekanan jual yang meningkat sering kali tidak diimbangi oleh likuiditas yang memadai.

Situasi tersebut kemudian memicu panic selling di kalangan investor pemula. Keputusan menjual dilakukan secara cepat tanpa mempertimbangkan kualitas aset yang dimiliki.

Menurut Budi, fenomena ini tidak terlepas dari perilaku berbasis fear of missing out (FOMO) yang semakin kuat. Investor terdorong masuk karena takut tertinggal tren, bukan karena keyakinan terhadap prospek dan kinerja perusahaan.

“Risiko investor muda sangat besar karena mereka sering membeli berdasarkan FOMO, bukan fundamental,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *