
Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja emiten properti terafiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan dinilai masih prospektif di tahun 2026, meskipun mengalami penurunan saham yang cukup signifikan sejak awal tahun.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) sahamnya ada di level Rp 7.650 per saham. Ini turun 15,47% dalam sebulan dan 39,29% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Sementara, anak usahanya, PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), mencatat penurunan saham 18,80% dalam sebulan dan 55,09% YTD ke level Rp 3.930 per saham.
Dengan penurunan lebih dari 50% YTD, CBDK pun memutuskan melakukan pembelian kembali (buyback) saham sebanyak-banyaknya sebesar Rp 250 miliar. Aksi korporasi itu berlangsung per 20 Mei hingga 19 Agustus 2026.
Harga Komoditas Minyak Ambles, Investor Disarankan Cermati Peluang Akumulasi
Manajemen CBDK bilang, buyback saham dimaksudkan untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar pada saat IHSG sedang berfluktuasi.
“Sekaligus memberi indikasi kepada investor bahwa CBDK memandang harga saham saat ini belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan nilai intrinsik perusahaan,” tulis manajemen CBDK dalam keterbukaan informasi tanggal 19 Mei 2026.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie Tren melihat, penurunan saham PANI dan CBDK didorong oleh sentimen makroeksternal yang menekan IHSG, bukan karena faktor fundamental.
Meskipun rencana buyback CBDK bisa meredam aksi jual di pasar, langkah ini akan menggerus free float. Sebagai gambaran, saham CBDK digenggam PANI sebesar 87,27% dan sisanya sebesar 12,53% dipegang publik.
“Khusus untuk CBDK, penyusutan porsi saham beredar ini perlu diawasi agar tetap memenuhi ketentuan batas minimum dari Bursa Efek Indonesia (BEI),” katanya kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpandangan, rencana buyback saham CBDK bisa meningkatkan permintaan di pasar reguler. Sehingga, ini bisa menjaga agar saham CBDK tak jatuh lebih jauh.
Kinerja PANI dan CBDK saat ini juga dinilai masih minim katalis positif. Misalnya, suku bunga Bank Indonesia (BI) baru naik 50 basis poin (bps) ke 5,25% di Mei 2026 yang bisa menjadi sentimen negatif bagi KPR. Hal ini pun bisa menekan daya beli konsumen residensial.
“Apalagi, aset PANI dan CBDK tergolong produk premium,” katanya.
Nusantara Infrastructure (META) Bagikan Dividen Tunai Rp 2,62 per Saham
Ke depan, kinerja PANI dan CBDK masih bisa bertahan meskipun tak melaju kencang. Pada tahun 2026, PANI menetapkan target pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 4,3 triliun.
Sementara, CBDK membidik marketing sales Rp 563 miliar dengan strategi utama monetisasi lahan komersial di kawasan CBD PIK2.
Adrian melihat, PANI menawarkan profil risiko yang lebih stabil, ditopang oleh recurring income dari kawasan yang sudah matang. Di sisi lain, CBDK menawarkan potensi pertumbuhan yang lebih agresif, bergantung pada kelancaran eksekusi proyeknya.
Di tengah volatilitas pasar saat ini, saham PANI dan CBDK juga masih menarik untuk diakumulasi secara bertahap.
“Dari perspektif valuasi, PANI sedang diperdagangkan pada level yang menarik, yakni di bawah rata-rata price to book value (PBV) historis 3 tahun terakhir,” katanya.
Secara teknikal, pergerakan PANI dilihat Adrian memiliki potensi penguatan dengan target harga terdekat di level Rp 8.175 per saham. Sementara, CBDK telah memasuki area oversold, sehingga membuka probabilitas terjadinya technical rebound dengan target harga terdekat di level Rp 4.320 per saham.
PANI Chart by TradingView
Nafan menambahkan, kinerja PANI bisa lebih baik dengan target marketing sales yang lebih tinggi di tahun ini. Sementara, CBDK masih bisa mencetak kinerja positif dengan potensi pemulihan permintaan lahan dan daya beli masyarakat.
“Sentimen positif untuk keduanya berasal dari konektivitas infrastruktur di PIK2 dari akses Tol Kataraja,” ungkapnya. Nafan pun masih merekomendasikan wait and see untuk PANI dan CBDK.