Menakar dampak kehadiran DSI terhadap kondisi rupiah dan IHSG yang kini lesu

Scoot.co.id JAKARTA. Kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) seharusnya bisa berperan untuk mendorong kinerja nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong mengatakan, kehadiran DSI bisa meminimalisasi praktik under invoicing yang merugikan pendapatan negara. Para eksportir jadi tidak bisa memainkan harga jual riil dan harga jual yang dilaporkan.

“Transparansi harga ini bisa membuat dana dalam bentuk dolar Amerika Serikat (AS) masuk ke Indonesia sebagai bagian dari Devisa Hasil Ekspor (DHE). Ini bisa turut menstabilkan rupiah,” ujarnya dalam Media Connect Samuel Sekuritas, Kamis (4/6/2026).

Proyeksi IHSG Juni 2026: Simak Skenario Optimistis, Moderat dan Pesimistis

Meskipun begitu, Shim menegaskan hal tersebut masih terlalu dini untuk disimpulkan. Risiko dari kehadiran DSI tetap tinggi.

Kehadiran DSI dinilai berisiko menciptakan sentralisasi dan monopoli dalam perdagangan sumber daya alam di Indonesia.

Selain itu, proses pembentukan keputusan untuk menghadirkan DSI dinilai lembaga pemeringkatan global S&P terlalu singkat, yaitu hanya tiga bulan.

“Sesuatu dengan kekuatan yang terlalu besar itu mempunyai risiko yang sangat tinggi jika tidak dilaksanakan dengan baik,” ungkapnya.

Akibatnya, tak heran jika banyak pelaku bisnis dan investor yang meminta penjelasan lebih lanjut akan kehadiran DSI.

Lembaga pemeringkatan Moody’s juga menilai DSI bisa menjadi sentimen negatif untuk perusahaan tambang lantaran meningkatkan distorsi pasar.

Prospek Rupiah Semester II-2026 Bergantung pada Tiga Faktor Ini

Selain itu, ketidakpastian iklim bisnis SDA di tengah kehadiran DSI juga menjadi salah satu pemberat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

Sebagai gambaran hari ini IHSG turun 1,7% ke level 5.839,78. Penurunannya tercatat sudah sebanyak 32,46% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Aliran dana asing juga keluar Rp 56,36 triliun YTD dari seluruh pasar dan Rp 67,06 triliun YTD dari pasar reguler.

Salah satu cara agar pasar kembali percaya terhadap Bursa Tanah Air adalah berhentinya pemerintah bermanuver lebih lanjut dalam mengintervensi pasar.

“Banyak investor yang tidak suka, karena pemerintah tidak seharusnya mengintervensi pasar secara agresif,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) siap melakukan pengelolaan ekspor SDA.

Keputusan itu dilandasi PP Ekspor SDA dan mewajibkan ekspor satu pintu dan penempatan 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA di dalam negeri.

IHSG Menguat pada Perdagangan Jumat (29/5) Pagi, CUAN, BRPT, DEWA Top Gainers LQ45

Penerapan ekspor satu pintu ini sudah dimulai pada 1 Juni 2026 lalu sebagai tahap awal, hingga akhirnya diimplementasikan penuh pada 1 Januari 2027.

DSI yang kini telah resmi berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan menjadi eksportir tunggal untuk sejumlah komoditas SDA strategis.

Pada tahap awal komoditas yang akan dikelola PT DSI meliputi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi (ferrous alloy). 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *