Scoot.co.id JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan mengadakan pertemuan lanjutan dengan penyedia indeks global MSCI pada pekan ini. Pertemuan krusial ini bertujuan untuk memperbarui progres reformasi pasar modal Indonesia, terutama setelah peringatan serius dari MSCI pada akhir Januari yang menyebabkan pasar saham nasional kehilangan valuasi sekitar US$120 miliar.
Kekhawatiran MSCI berpusat pada isu kepemilikan dan transparansi saham, yang memicu aksi jual besar-besaran serta mengikis kepercayaan investor. Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia semakin meningkat setelah Moody’s menurunkan prospek (outlook) obligasi Indonesia menjadi negatif, yang kemudian memicu arus keluar modal lebih lanjut dari ekonomi terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Bursa Efek Indonesia (IDX) mengonfirmasi jadwal pertemuan lanjutan yang akan berlangsung pada minggu kedua Februari untuk membahas kemajuan reformasi. Laporan dari media Antara menyebutkan bahwa pertemuan ini dijadwalkan pada hari Rabu. Sebelumnya, pihak bursa dan regulator keuangan telah mengadakan pertemuan virtual dengan MSCI pada 2 Februari. Dalam diskusi tersebut, Jakarta mengajukan sejumlah usulan, meliputi pengungkapan nama pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, serta peningkatan minimal free float saham. Langkah-langkah ini diajukan sebagai respons konkret terhadap kekhawatiran yang disoroti oleh MSCI.
IDX menargetkan data pengungkapan saham akan dipublikasikan di situs web resminya pada bulan ini. Sementara itu, klasifikasi investor yang lebih detail direncanakan akan tersedia pada akhir Maret, bersamaan dengan implementasi regulasi peningkatan minimal free float. Hingga saat ini, MSCI belum memberikan komentar resmi terkait usulan maupun jadwal pertemuan yang diajukan oleh pihak Indonesia tersebut.
Di samping isu MSCI, pasar keuangan Indonesia juga menghadapi tantangan lain akibat ketidakpastian mengenai independensi bank sentral dan kesehatan fiskal negara. Kondisi ini muncul di tengah ambisi Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari 5% saat ini menjadi 8%. Ketidakpastian tersebut turut memengaruhi nilai tukar rupiah, yang sempat menyentuh rekor terendah Rp16.985 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi setelah Prabowo menominasikan keponakannya, Thomas Djiwandono, untuk menempati posisi penting di Bank Indonesia. Meski demikian, rupiah kini sedikit menguat, namun masih bergerak di sekitar level tersebut.
Thomas Djiwandono, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri keuangan, direncanakan akan dilantik sebagai wakil gubernur Bank Indonesia pada Senin. Seiring dengan gejolak pasar ini, lima pejabat tinggi di Bursa Efek Indonesia (IDX) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dilaporkan mengundurkan diri, menyusul aksi jual besar-besaran yang terjadi di pasar saham.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, perdagangan pada hari Senin menunjukkan sinyal positif. Indeks saham utama menguat sebesar 0,98%, menandai adanya stabilisasi awal setelah tekanan jual yang cukup signifikan terjadi sepanjang pekan lalu.