
Scoot.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan pada Rabu (3/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,71% secara harian ke Rp 17.967 per dolar AS. Secara year to date (ytd), rupiah telah terdepresiasi 7,42% dibanding posisi awal tahun di level Rp 16.725 per dolar AS.
Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin menilai kebijakan moneter tidak bisa lagi digunakan untuk menguatkan rupiah. Buktinya setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga, rupiah tak kunjung menguat, dan justru mengalami tren pelemahan.
“Yang bisa digunakan adalah instrumen fiskal. Perkuatlah fiskal kita dengan menunda program – program yang menghabiskan APBN dengan sangat dahsyat. Misalnya program makan bergizi gratis (MBG), itu bisa ditunda,” ujar Ferry saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).
Valuasi Saham Tanah di BEI Terdiskon, Tapi Investor Masih Hitung Ulang Risiko
Ferry melihat potensi defisit fiskal ini semakin terlihat karena Indonesia merupakan importir minyak mentah dan harga minyak mentah saat ini masih dalam tren tinggi di atas US$ 90 per barel. Apalagi pada kuartal I defisit fiskal sudah menyetuh 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Kalau sampai current account kita defisit, APBN kita defisit, ini gawat, saya wanti – wanti ke pemerintah jangan sampai terjadi,” kata Ferry.
Ferry juga bilang bahwa tingginya harga minyak mentah ini berdampak pada naiknya harga – harga di sektor lain. Mulai dari bahan baku industri, biaya transportasi dan logistik, hingga naiknya harga pangan karena semakin melemahnya nilai tukar.
Disamping itu Ferry menyoroti pernyataan lembaga rating S&P yang bisa menurunkan rating Indonesia karena kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang bisa menjadi market distortion.
“Kebijakan – kebijakan pemerintah yang membuat investor asing tidak percaya,” jelas Ferry.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, kenaikan Bank Indonesia (BI) Rate sebelumnya memang membantu menahan pelemahan yang lebih dalam, tetapi belum cukup untuk membalikkan rupiah secara berkelanjutan. Ini karena kenaikan suku bunga hanya memperbaiki daya tarik aset rupiah.
“Sementara sumber tekanan rupiah berasal dari banyak jalur: impor energi, arus keluar modal, kebutuhan dolar musiman, tekanan fiskal, dan keraguan terhadap arah kebijakan,” ujar Josua.
Josua menambahkan bahwa Bloomberg juga mencatat bahwa meskipun sejumlah bank sentral Asia mulai mengetatkan kebijakan, mata uang negara-negara tersebut masih berada dekat level terlemah karena kenaikan suku bunga yang bertujuan menahan inflasi impor biasanya hanya memberi dukungan yang dangkal terhadap kurs. Artinya, suku bunga penting, tetapi rupiah tetap memerlukan pasokan devisa dan kepercayaan kebijakan yang lebih kuat.
Josua melihat prospek rupiah pada semester II 2026 akan lebih stabil dibanding Mei. Akan tetapi stabilitasnya rapuh dan sangat bergantung pada tiga syarat. Pertama, tensi Timur Tengah harus benar-benar mereda sehingga harga minyak turun dan kebutuhan dolar untuk impor energi berkurang.
Kedua, BI perlu tetap menjaga daya tarik aset rupiah melalui suku bunga, SRBI, operasi pasar valas, dan stabilisasi SBN tanpa menguras cadangan devisa secara berlebihan. Ketiga, pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dan memastikan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) benar-benar menambah pasokan devisa, bukan sekadar menambah beban administratif eksportir.
“Jika ketiga syarat ini terpenuhi, rupiah bisa mulai bergerak lebih stabil pada semester II, tetapi jika salah satunya gagal, tekanan ke Rp18.000 tetap terbuka,” terang Josua.
Josua menyebut sentimen utama yang akan memengaruhi rupiah ke depan adalah harga minyak, perkembangan AS-Iran, arah suku bunga Amerika Serikat, imbal hasil obligasi Amerika, arus modal asing ke SBN dan saham, kredibilitas fiskal, kebijakan DHE SDA, serta neraca transaksi berjalan. Sentimen pasar saham juga belum bisa diabaikan karena isu MSCI dan jual bersih asing dapat menambah kebutuhan konversi rupiah ke dolar.
Selain itu, permintaan dolar untuk dividen, pembayaran utang luar negeri, dan impor energi masih menjadi faktor musiman yang dapat muncul kembali pada periode tertentu.
“Jadi, rupiah semester II tidak hanya ditentukan oleh BI, tetapi oleh kombinasi antara pasar global, APBN, ekspor, impor, dan kepercayaan investor terhadap konsistensi kebijakan,” ujar Josua.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan, sentimen rupiah ke depan akan ditentukan oleh lima faktor utama. Pertama, arah suku bunga global dan kekuatan dolar AS tetap memengaruhi arus modal ke negara berkembang. Jika yield aset dolar tetap tinggi, investor akan meminta premi lebih besar untuk menahan aset rupiah.
Kedua, kredibilitas kebijakan Bank Indonesia menjadi penentu penting. Kenaikan policy rate ke 5,25 persen memperlihatkan respons stabilisasi, tetapi pasar tetap menunggu konsistensi komunikasi dan efektivitas intervensi. Ketiga, kinerja eksternal perlu diperkuat karena impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor, sementara surplus perdagangan menyempit dibanding tahun sebelumnya.
Keempat, persepsi risiko sovereign ikut menekan rupiah. CDS 5 tahun sekitar 90 bps dan yield obligasi 10 tahun sekitar 6,7 persen menunjukkan pasar masih meminta kompensasi risiko cukup tinggi. Kelima, kualitas kebijakan fiskal akan memengaruhi kepercayaan investor.
“Belanja pemerintah harus memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah memperoleh dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ucap Syafruddin.
Josua memperkirakan rupiah pada semester II – 2026 bergerak dalam kisaran dasar Rp 17.300 sampai Rp 17.900 per dolar AS. Dalam skenario positif, jika gencatan senjata AS-Iran berjalan, harga minyak turun lebih dekat ke kisaran rendah, dolar AS melemah, dan arus asing kembali masuk, rupiah dapat menguat bertahap ke sekitar Rp 17.000 sampai Rp 17.300 pada akhir tahun.
Syafruddin memproyeksikan rupiah pada semester II-2026 berpotensi bergerak dalam kisaran Rp 17.900 – Rp 18.400 per dolar AS, dengan titik tengah proyeksi sekitar Rp 18.150 –Rp 18.250 per dolar AS.
Sementara Ferry memproyeksikan rupiah mencapai Rp 22.000 per dolar AS pada Juli 2026 dan berpotensi melemah hingga Rp 25.000 per dolar AS hingga akhir tahun 2026.
Harum Energy (HRUM) Siapkan Capex US$ 310 Juta, Mayoritas untuk Ekspansi Bisnis Nikel