
Scoot.co.id JAKARTA – Sejumlah analis memproyeksikan saham emiten di sektor batu bara dalam posisi overweight di tengah kebijakan ekspor satu pintu yang mulai masuk fase transisi pada awal Juni ini.
Berdasarkan penjelasan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, tahap awal implementasi DSI mencakup tiga komoditas utama, yakni batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy. Pemerintah menerapkan masa transisi sepanjang 2026 sebelum implementasi penuh dijalankan mulai 1 Januari 2027.
Pada fase transisi yang dimulai 1 Juni 2026, kegiatan ekspor masih dilakukan oleh masing-masing perusahaan seperti biasa. Namun seluruh aktivitas ekspor wajib dilaporkan kepada DSI melalui sistem yang terintegrasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pemerintah akan menggunakan periode ini untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan sebelum memasuki tahap implementasi penuh.
: Ekspor Satu Pintu dari Pemerintah, Ini Respons Indo Tambangraya (ITMG)
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai imbas kebijakan ekspor satu pintu tersebut dalam jangka pendek berpotensi meningkatkan ketidakpastian operasional dan administrasi bagi eksportir batu bara, terutama pada masa transisi. Menurutnya investor akan mencermati kemungkinan terjadinya perlambatan proses ekspor, pengiriman, maupun arus kas perusahaan.
Namun, lanjutnya, selama implementasinya berjalan lancar dan tidak mengganggu volume ekspor, dampak fundamental terhadap kinerja emiten batu bara diperkirakan relatif terbatas.
“Kami saat ini memiliki pandangan overweight terhadap sektor batu bara. Selain valuasi yang masih relatif menarik, prospek harga batu bara juga membaik dibandingkan beberapa bulan lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (2/6/2026).
Batu bara Indonesia juga dinilai tetap memiliki daya saing kuat di pasar ekspor global. Selain itu, tingginya harga energi dunia akibat ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor penopang permintaan komoditas tersebut.
Dari sisi emiten, dua saham yang menjadi pilihan utama adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Keduanya dinilai memiliki fundamental yang solid, posisi keuangan yang kuat, serta menawarkan potensi dividend yield yang menarik bagi investor.
Meski prospeknya masih menjanjikan, sektor batu bara tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah risiko perlambatan ekonomi global yang berpotensi menekan konsumsi energi dan permintaan batu bara di pasar internasional.
Selain itu, sambungnya, perubahan regulasi pemerintah seperti kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), penyesuaian royalti, hingga aturan terkait lingkungan hidup masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Volatilitas harga komoditas dan pergerakan nilai tukar rupiah juga dapat memengaruhi kinerja perusahaan batu bara.
Dalam jangka panjang, Andrey juga menyebut tren transisi energi global menuju energi bersih juga diperkirakan tetap menjadi tantangan yang memengaruhi sentimen investor terhadap sektor batu bara.
Meski demikian, sejumlah katalis positif masih berpotensi menopang kinerja saham-saham batu bara ke depan. Ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi menjaga harga energi tetap berada pada level yang relatif kuat. Di sisi lain, permintaan dari negara-negara Asia yang masih bergantung pada batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik diperkirakan tetap solid.
Dia juga melihat valuasi saham batu bara saat ini masih menarik setelah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir. Tingkat dividend yield yang tinggi membuat sektor ini tetap menjadi pilihan bagi investor yang mencari pendapatan dividen secara konsisten.
“Jika tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan mulai mereda, minat investor terhadap saham-saham komoditas, termasuk batu bara, berpotensi kembali meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai kebijakan tersebut berpotensi memberikan tekanan bagi emiten batu bara eksportir murni dan sektor perkebunan kelapa sawit, meski di sisi lain dapat menjadi sentimen positif bagi beberapa perusahaan yang memiliki kedekatan strategis dengan pemerintah.
Nafan menilai sektor yang paling rentan terkena dampak adalah perusahaan batu bara yang mengandalkan pasar ekspor sebagai sumber utama pendapatan. Hal ini sejalan dengan potensi peran DSI dalam menyelaraskan volume ekspor batu bara dengan kebutuhan energi domestik melalui kebijakan DMO serta target transisi energi nasional.
Dengan adanya mekanisme pengawasan yang lebih terpusat, ruang gerak perusahaan untuk memanfaatkan lonjakan harga batu bara global diperkirakan menjadi lebih terbatas. Proses persetujuan ekspor yang lebih birokratis berpotensi mengurangi fleksibilitas emiten dalam melakukan strategi penjualan ketika harga pasar internasional sedang tinggi.
Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa DSI dapat menerapkan mekanisme pungutan ekspor baru yang diarahkan untuk mendukung pendanaan program transisi energi atau green fund. Jika skema tersebut diterapkan, margin keuntungan perusahaan batu bara berisiko tertekan.
Indo Tambangraya Megah Tbk. – TradingView
Dalam skenario tersebut, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) dan PT Harum Energy Tbk.(HRUM) disebut sebagai emiten yang paling rentan terdampak. Kedua perusahaan memiliki porsi ekspor yang besar dan tidak memiliki penyangga pasar domestik sebesar yang dimiliki emiten pelat merah seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
“Ketergantungan yang tinggi terhadap pasar ekspor membuat ITMG dan HRUM lebih sensitif terhadap potensi pengetatan izin ekspor maupun perubahan mekanisme perdagangan yang diterapkan DSI,” tulisnya dalam riset yang dikutip, Selasa (2/6/2026).
Di tengah potensi tekanan tersebut, Mirae melihat PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) berada pada posisi yang relatif lebih menguntungkan.
Bukit Asam Tbk. – TradingView
Sebagai bagian dari holding pertambangan MIND ID yang berada dalam ekosistem Danantara, PTBA dinilai memiliki kedekatan struktural dengan regulator baru tersebut. DSI diperkirakan akan memastikan pasokan batu bara PTBA untuk kebutuhan domestik tetap terjaga, sementara kuota ekspor yang dimiliki perusahaan berpotensi memperoleh dukungan melalui skema perdagangan antarnegara atau government-to-government (G-to-G) yang dikembangkan Danantara Investment Fund.
Oleh karena itu, Mirae menilai prospek PTBA masih berada pada kategori netral dengan bias positif. Risiko hambatan ekspor diperkirakan lebih rendah dibandingkan emiten batu bara swasta yang sangat bergantung pada pasar ekspor.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.