Ramalan BI soal kinerja industri manufaktur kuartal II/2026

Scoot.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada kuartal II/2026 tetap berada pada fase ekspansi, terlepas dari data S&P Global terkait Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang terkontraksi per April 2026.

Dalam laporan Prompt Manufacturing Index BI (PMI-BI) Kuartal I/2026, bank sentral Tanah Air memperkirakan kinerja industri pengolahan meningkat menjadi 52,26% pada kuartal II/2026. Ekspansi ini terutama didorong oleh volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan.

“Mayoritas sublapangan usaha [LU] diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri furnitur, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, serta industri makanan dan minuman,” tulis BI dalam laporan tersebut, dikutip pada Senin (1/6/2026).

: Manufaktur Masih Rawan Dihantam Badai PHK

Pada kuartal pertama tahun ini, BI mencatat kinerja industri pengolahan sebesar 52,03%, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya sebesar 51,86%.

Menilik komponen pembentuknya, ekspansi tercatat pada volume persediaan barang jadi yang sebesar 54,07%, volume produksi (54,07%), dan volume total pesanan (53,20%).

: : PMI Manufaktur RI Anjlok ke Level 49,1 April 2026, Ini Biang Keroknya

Namun demikian, terdapat dua komponen yang berada di zona kontraksi alias kurang dari 50%, yaitu kecepatan penerimaan barang input (49,06%) dan jumlah tenaga kerja (48,76%).

“PMI-BI pada sebagian besar sub-LU juga berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada industri kertas dan barang dari kerta; percetakan dan reproduksi media rekaman, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, serta industri makanan dan minuman,” demikian laporan BI.

: : PMI Manufaktur Diproyeksi Tetap Ekspansif, Daya Beli Jadi Penopang

Sebelumnya, data S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi pada April 2026. PMI manufaktur Indonesia tercatat turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April 2026.

Sebagai konteks, posisi di bawah ambang batas 50,0 menandakan penurunan kondisi operasional sektor manufaktur, sekaligus menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir.

“Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya aktivitas produksi. Volume output tercatat mengalami kontraksi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dan menjadi yang terdalam dalam hampir satu tahun terakhir.

Bhatti menyebut, pelaku usaha mengaitkan kondisi ini dengan lonjakan harga bahan baku, gangguan pasokan, serta melemahnya daya beli konsumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *