Rupiah cetak rekor terlemah, cermati efeknya terhadap kinerja Mayora (MYOR)

Scoot.co.id JAKARTA. Rupiah kembali mencetak rekor sebagai level penutupan terlemah sepanjang sejarah. Di pasar spot, rupiah ditutup di posisi Rp 17.143 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (14/4/2026), melemah 0,09% dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.127 per dolar AS.

Pergerakan ini sejalan dengan nilai tukar rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Pada Rabu (15/4/2026), rupiah tercatat di level Rp 17.141 per dolar AS, turun 0,04% dari posisi sebelumnya di Rp 17.135 per dolar AS.

Pelemahan rupiah yang berlanjut ini tentu berdampak pada kinerja perusahaan, termasuk emiten sektor FMCG seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Manajemen MYOR menyampaikan secara umum depresiasi rupiah justru memberikan sentimen positif bagi perusahaan. Ini ditopang oleh porsi ekspor yang cukup besar, di mana sebagian pendapatan diperoleh dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS).

Mayora (MYOR) Catat Kenaikan Penjualan pada 2025, Bagaimana Prospek Tahun Ini?

Selain itu, pelemahan rupiah turut meningkatkan daya saing produk MYOR di pasar global karena harga menjadi relatif lebih kompetitif.

“Kondisi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan volume penjualan ekspor,” kata manajemen MYOR kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Dari sisi biaya, perusahaan juga melihat adanya perbaikan. Harga bahan baku utama seperti kakao dan kopi telah mengalami penurunan dan mulai stabil sejak kuartal IV-2024, sehingga memberikan ruang bagi peningkatan margin ke depan.

Terkait strategi harga, manajemen menyebut saat ini belum ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penyesuaian, mengingat struktur biaya masih cukup terkendali.

Meski demikian, perusahaan tetap mencermati dinamika harga bahan baku dan komponen pendukung lainnya, terutama yang berpotensi terdampak kenaikan harga minyak global.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan pelemahan rupiah dalam jangka menengah cenderung memberikan tekanan terhadap margin MYOR, mengingat sebagian bahan baku seperti gandum, gula, dan bahan penolong masih bergantung pada impor yang berdenominasi dolar AS.

  MYOR Chart by TradingView  

“Kenaikan biaya input ini berpotensi menekan gross margin jika tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual,” ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Namun dalam jangka lebih panjang, dampaknya bisa lebih moderat karena MYOR memiliki eksposur ekspor yang cukup signifikan.

Pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan daya saing produk di pasar internasional serta memberikan tambahan pendapatan berbasis dolar, sehingga menjadi natural hedge bagi kinerja perusahaan.

Dari perspektif investor, pelemahan rupiah merupakan sentimen yang perlu dicermati, terutama terkait potensi tekanan margin jangka pendek. Namun, fundamental MYOR relatif solid dengan kekuatan jenama, distribusi luas, serta eksposur ekspor yang menjadi penopang.

Untuk strategi investasi, saham MYOR masih menarik untuk jangka menengah dengan pendekatan buy on weakness, khususnya jika terjadi koreksi akibat sentimen nilai tukar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menerangkan dampak pelemahan rupiah terhadap MYOR akan dua arah dan lebih terkelola dibanding emiten FMCG lain.

Di sisi negatif, bahan baku impor seperti gula dan cokelat langsung naik biayanya seiring rupiah ke Rp 17.141. Namun MYOR memiliki natural hedge signifikan, pangsa ekspor 41% menghasilkan pendapatan dolar yang mengimbangi kenaikan biaya impor.

“Secara konsolidasi, MYOR relatif lebih tahan dibanding emiten FMCG yang sepenuhnya bergantung pada pasar domestik,” ujar Abida.

Upaya Jaga Margin

Elandry menerangkan untuk menjaga margin tetap positif di tengah tekanan pelemahan rupiah, MYOR perlu mengandalkan kombinasi strategi yang terukur.

Perusahaan dapat melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap, khususnya pada produk dengan kekuatan brand yang tinggi, sehingga risiko penurunan volume dapat diminimalkan.

Mayora (MYOR) Catatkan Kenaikan Penjualan di Tengah Koreksi Laba Pada Tahun 2025

Di sisi lain, efisiensi operasional menjadi kunci untuk menekan kenaikan biaya produksi, termasuk melalui optimalisasi rantai pasok dan peningkatan produktivitas. MYOR juga dapat memanfaatkan instrumen lindung nilai (hedging) untuk mengurangi volatilitas biaya impor akibat fluktuasi kurs.

Selain itu, diversifikasi sumber bahan baku, termasuk peningkatan porsi local sourcing, dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor. Upaya ini dapat diperkuat dengan ekspansi pasar ekspor, sehingga porsi pendapatan dalam dolar AS meningkat dan berfungsi sebagai natural hedge terhadap pelemahan rupiah.

Rekomendasi Saham

Elandry mengungkapkan potensi kenaikan harga saham MYOR secara konservatif di kisaran Rp 2.100–Rp 2.300, dengan catatan stabilitas margin dan keberhasilan perusahaan dalam menerapkan strategi mitigasi biaya.

Sementara itu, Abida berpandangan pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif jangka pendek, namun eksposur ekspor 41% menjadikan MYOR salah satu emiten FMCG paling terlindungi secara struktural.

Jika rupiah terus melemah, margin ekspor dalam rupiah justru mengembang dan mengompensasi tekanan biaya impor. Koreksi akibat sentimen ini dapat dimanfaatkan sebagai entry point menarik. Dus, Abida merekomendasikan buy saham MYOR dengan target harga di Rp 2.700.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *