Rupiah masih tertekan, sulit kembali ke level Rp 16.000 per dolar AS

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terus dibayangi tekanan, dan proyeksi menunjukkan bahwa mata uang Garuda ini belum akan kembali ke level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat dalam waktu dekat. Situasi ini mengindikasikan adanya tantangan signifikan yang harus dihadapi rupiah di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Menurut analisis Lukman Leong, seorang analis mata uang dari Doo Financial Futures, nilai tukar rupiah yang kini bertengger di kisaran Rp 17.000 per dolar AS adalah cerminan nyata dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling membebani. Kondisi ini menciptakan sentimen negatif yang menghambat penguatan rupiah secara substansial.

“Sangat sulit bagi rupiah untuk kembali ke level Rp 16.000 karena saat ini ia berada dalam cengkeraman tekanan kuat dari berbagai faktor internal dan eksternal,” ungkap Lukman kepada Kontan pada Rabu, 22 April 2026. Pernyataannya menggarisbawahi kompleksitas permasalahan yang sedang dihadapi rupiah.

Begini Penjelasan BEI Soal Kriteria Saham Berkonsentrasi Tinggi

Dari perspektif global, Lukman menjelaskan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi pemicu utama yang menekan pergerakan rupiah. Konflik yang berlarut-larut ini menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.

Ia menambahkan, meskipun upaya gencatan senjata telah diperpanjang antara Amerika Serikat dan Iran, perbedaan fundamental di antara kedua negara justru semakin meruncing. Situasi ini terus memicu kekhawatiran dan membayangi stabilitas ekonomi global, sehingga berdampak langsung pada nilai tukar mata uang negara berkembang seperti Indonesia.

Tidak hanya dari luar, dari ranah domestik, kebijakan pemerintah juga turut berperan dalam membentuk sentimen pasar terhadap rupiah. Salah satu fokus utama adalah terkait upaya pengendalian defisit anggaran yang menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar.

Lukman secara spesifik menyoroti kebijakan yang berhubungan dengan harga bahan bakar minyak (BBM) serta berbagai program pemerintah. Langkah-langkah ini diawasi ketat oleh pelaku pasar karena dianggap memiliki potensi untuk memengaruhi stabilitas fiskal dan daya tarik investasi di Indonesia.

Lebih lanjut, pasar juga menanti dengan saksama hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Keputusan yang dihasilkan dari pertemuan penting ini akan menjadi penentu arah kebijakan moneter ke depan, yang sangat krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Dengan berbagai sentimen yang saling bertautan tersebut, prospek rupiah dalam jangka pendek dinilai masih cenderung negatif oleh Lukman. “Saat ini, trennya masih negatif,” tegasnya, mengindikasikan bahwa perbaikan signifikan belum terlihat dalam waktu dekat.

Menatap ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif. Hal ini seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian global serta respons kebijakan domestik yang adaptif terhadap tekanan eksternal yang terus berubah, menuntut kewaspadaan dari semua pihak.

BEI Ubah Kriteria Evaluasi Indeks LQ45, IDX30, dan IDX80, Ini Rinciannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *