
Scoot.co.id JAKARTA. Dinamika pasar keuangan global yang bergejolak turut menyeret performa berbagai jenis saham, termasuk saham lapis kedua atau second liner. Saham-saham yang sebelumnya sering menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ini kini ikut merasakan dampak tekanan jual yang signifikan.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa kinerja indeks saham lapis kedua mengalami penurunan signifikan. Indeks IDX Small Mid Cap (SMC) Composite telah terkoreksi sebesar 20,21% secara year to date (ytd) hingga Jumat (22/5), mencapai level 401,560. Senada, IDX SMC Liquid juga terperosok 14,65% ytd ke level 307,785.
Koreksi mendalam pada kedua indeks saham lapis kedua ini tidak terlepas dari pergerakan IHSG yang turut melemah. Sejak awal tahun, IHSG tercatat merosot 28,64% ytd ke level 6.162,045, mencerminkan sentimen negatif yang menyeluruh di pasar modal.
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan bahwa koreksi tajam yang dialami saham-saham lapis kedua tidak semata-mata dipicu oleh efek rebalancing MSCI atau FTSE. Lebih dari itu, ia melihat adanya efek berantai dari sejumlah faktor penting lainnya yang turut menekan kinerja saham-saham ini.
Faktor-faktor tersebut mencakup peningkatan sikap risk-off secara masif di kalangan investor, yang disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik global dan arus keluar dana asing (outflow). Selain itu, aksi profit taking setelah kenaikan harga sebelumnya serta gejala kepanikan yang menyebar dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) juga turut memperparah tekanan jual.
Emiten Emas Panen Laba di 2026, Begini Prospeknya Sepanjang Tahun
Wafi menambahkan, “Saham dengan beta tinggi, likuiditas tipis, dan narasi tanpa earnings (laba) paling rawan tertekan, karena exit cost-nya paling mahal,” jelasnya pada Jumat (22/5).
Senada dengan pandangan tersebut, Raden Bagus Bima, seorang Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia, turut menyoroti penyebab koreksi mendalam pada IDX SMC Composite dan IDX SMC Liquid. Menurutnya, penurunan ini merupakan kombinasi dari beberapa faktor, meliputi gejolak pasar yang intens, arus keluar dana asing (outflow) yang deras, serta dampak dari rebalancing indeks MSCI dan FTSE.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan pemerintah, status High Shareholder Concentration (HSG) yang secara spesifik memengaruhi emiten big caps, serta aksi profit taking setelah saham lapis kedua sempat melesat tinggi, turut menjadi pemicu tekanan jual.
Baik saham big caps dengan likuiditas besar maupun saham lapis kedua menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap tekanan jual. Akibatnya, harga saham-saham ini cenderung mengalami penurunan yang lebih tajam saat sentimen pasar global memburuk.
Raden menambahkan, “Turunnya minat spekulasi investor ritel turut membuat saham lapis kedua kehilangan momentum, di tengah banyaknya informasi negatif yang beredar,” ujarnya, Jumat (22/5).
Meski demikian, Raden Bagus Bima tetap optimistis terhadap prospek saham-saham lapis kedua di masa mendatang. Ia menilai, valuasi sebagian saham kini mulai kembali menarik, ditopang oleh fundamental perusahaan yang tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
Secara historis, saham-saham lapis kedua memang kerap menunjukkan kinerja yang lebih baik (outperform) saat pasar mulai pulih. Ini terjadi karena investor cenderung mencari potensi pertumbuhan kinerja yang lebih agresif dibandingkan saham berkapitalisasi besar.
“Namun, kondisi pasar saat ini menuntut investor untuk lebih selektif, dengan fokus pada saham yang likuid, memiliki fundamental kuat, laba yang bertumbuh, dan katalis yang jelas,” tegas Raden.
Sementara itu, Muhammad Wafi berpendapat bahwa era saham-saham lapis kedua tidaklah berakhir, melainkan sedang memasuki fase yang berbeda. Ia mengamati adanya rotasi investor ke saham-saham big caps yang saat ini menawarkan keunggulan dari aspek valuasi dan fundamental.
Ketika kondisi pasar kembali stabil, saham-saham lapis kedua diprediksi akan kembali memiliki peluang pertumbuhan yang signifikan. Potensi ini terutama terlihat pada emiten-emiten yang membukukan laba bersih riil, memiliki arus kas positif, dan eksposur kuat terhadap komoditas strategis.
“Valuasi saham lapis kedua sekarang jauh lebih menarik dibandingkan awal tahun,” imbuh Wafi.
Berangkat dari analisis tersebut, Wafi merekomendasikan strategi investasi ideal bagi investor, yaitu memilih saham lapis kedua secara selektif dan berinvestasi secara bertahap. Momentum masuk yang optimal diperkirakan terjadi setelah arus keluar dana pasif akibat rebalancing MSCI mereda dan IHSG menunjukkan stabilitas di area support 6.200.
Emiten Poultry Panen Cuan di Awal 2026, Pelemahan Rupiah Jadi Ancaman
Wafi juga menyarankan investor untuk memprioritaskan saham lapis kedua dengan kriteria laba positif, free float di atas 15%, dan berasal dari sektor berbasis komoditas. Sebaliknya, ia mengingatkan agar menghindari saham yang hanya didorong oleh “cerita” tanpa laba riil, memiliki leverage tinggi, serta saham dari sektor properti, konstruksi, dan teknologi yang masih memiliki valuasi premium tanpa katalis yang jelas.
Lebih lanjut, Wafi memprediksi beberapa saham lapis kedua yang berpotensi menunjukkan kinerja outperform. Saham-saham tersebut meliputi sektor energi seperti ENRG dan MEDC, pertambangan minerba seperti PTRO dan BRMS, serta sektor konsumer dan kesehatan yang bersifat defensif seperti JPFA, MIKA, dan HEAL.
Sementara itu, Raden Bagus Bima memiliki pandangan berbeda mengenai momentum masuk yang menarik bagi investor, yaitu ketika tekanan jual asing mulai mereda. Ia menyarankan investor untuk menunggu hingga proses rebalancing MSCI selesai pada 29 Mei.
Raden menegaskan bahwa, baik untuk aktivitas trading maupun investasi jangka panjang, saham lapis kedua tetap menawarkan peluang yang menjanjikan. Meskipun demikian, ia mengingatkan pentingnya memperhatikan risiko-risiko inheren seperti likuiditas yang tipis, volatilitas harga yang tinggi, dan potensi distribusi oleh bandar. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko secara disiplin dalam jangka pendek menjadi krusial.
Dalam konteks ini, Raden merekomendasikan beberapa saham lapis kedua yang layak dicermati, di antaranya BUVA dan RAJA. Untuk saham BUVA, ia menetapkan target harga di level Rp 1.000 per saham dengan stop loss di Rp 650 per saham. Sementara itu, saham RAJA ditargetkan menembus level Rp 4.000–Rp 4.150 per saham, dengan stop loss pada Rp 3.200 per saham.