Sektor Properti Terdampak Kenaikan BI Rate, Simak Saham Rekomendas Analis

Scoot.co.id  JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% diperkirakan menambah tekanan bagi emiten properti sepanjang sisa 2026. 

Tekanan datang dari kombinasi bunga tinggi dan pelemahan rupiah yang masih bertahan di kisaran Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Rupiah pada perdagangan terakhir ditutup di level Rp 17.654 per dolar AS atau menguat tipis 0,29% dibanding sehari sebelumnya. Meski begitu, secara year to date, rupiah masih melemah 0,76% terhadap dolar AS.

Kondisi ini dinilai bisa membebani kinerja emiten properti, terutama perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS. 

Saham Big Banks Kompak Susut Usai Pengumuman BI Rate, Simak Rekomendasi Analis

Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi mendorong kenaikan biaya bahan bangunan impor dan menekan margin keuntungan pengembang.

Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Jessica Leonardy, menilai kenaikan BI Rate dan pelemahan rupiah menjadi sentimen negatif bagi sektor properti. 

Menurut dia, kenaikan nilai tukar dolar membuat harga bahan baku impor semakin mahal, sementara suku bunga tinggi menambah tekanan industri.

Senada, Analis Maybank Sekuritas Kevin Halim mengatakan pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya konstruksi akibat kenaikan input cost material bangunan. Kondisi tersebut berpotensi menggerus margin emiten jika tidak diimbangi kenaikan harga jual properti.

Kevin menilai PT Pakuwon Jati Tbk menjadi salah satu emiten yang cukup sensitif terhadap pelemahan rupiah lantaran masih memiliki obligasi dolar AS sekitar US$ 333 juta yang jatuh tempo pada 2028. 

“Setiap pelemahan rupiah 1%, laba bersih PWON berpotensi turun sekitar 0,7%,” ujarnya.

Prospek Sektor Pulp dan Kertas Mulai Membaik, Cermati Saham Rekomendasi Analis

Meski demikian, PWON dinilai sudah cukup agresif melakukan lindung nilai. Pada kuartal IV-2025, PWON melakukan direct hedging melalui pembelian fixed income mutual fund berbasis dolar AS senilai Rp 1,85 triliun sehingga eksposur liabilitas dolar AS bersih turun menjadi sekitar US$ 100 juta.

Sementara itu, PT Modernland Realty Tbk masih menanggung beban bunga utang mencapai Rp 118,68 miliar per Maret 2026 dan memiliki guaranteed senior notes setara Rp 4,66 triliun yang jatuh tempo pada 2027.

Di sisi lain, PT Jababeka Tbk memilih memperbesar pembiayaan berbasis rupiah. Perseroan baru menandatangani fasilitas pinjaman jangka panjang dari Bank Mandiri dengan tenor 15 tahun dan bunga floating 7% per tahun. KIJA juga memperoleh tambahan term loan Rp 70 miliar untuk kebutuhan korporasi.

Wakil Direktur Utama KIJA Budianto Liman mengatakan pembiayaan berbasis rupiah dipilih untuk menyesuaikan struktur pendanaan dengan mata uang pelaporan perusahaan sekaligus mengurangi volatilitas akibat fluktuasi dolar AS.

Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie melihat prospek sektor properti tahun ini masih dibayangi tekanan suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan pemulihan daya beli yang berjalan lambat. 

PPN DTP 100% Diperpanjang pada 2026, Simak Saham Rekomendasi Analis

Namun, sektor ini masih ditopang perpanjangan insentif PPN Ditanggung Pemerintah hingga 2027 dan program pembangunan 3 juta rumah.

Menurut Adrian, emiten dengan pendapatan berulang atau recurring income besar akan lebih defensif menghadapi kondisi saat ini. 

Sebaliknya, pengembang yang bergantung pada penjualan residensial menengah bawah dan memiliki utang dolar AS besar lebih rentan terkena tekanan.

Ia menilai emiten properti perlu memprioritaskan refinancing ke instrumen berbasis rupiah dan menekan penerbitan obligasi dolar AS baru untuk menjaga kesehatan keuangan di tengah volatilitas pasar.

Untuk rekomendasi saham, Adrian merekomendasikan beli PWON dengan target harga Rp 326 per saham. 

Sementara Maybank Sekuritas merekomendasikan beli saham BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050, Rp 1.150, Rp 580, dan Rp 520 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *