
Scoot.co.id , JAKARTA — Saham-saham emiten properti kompak bergerak di zona merah pada penutupan perdagangan sesi I ini setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.
Kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari ekspektasi pasar tersebut langsung menekan sektor properti yang dikenal sensitif terhadap pergerakan bunga kredit dan pembiayaan.
Koreksi terjadi pada sejumlah saham kapitalisasi besar sektor properti seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE), PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA), hingga PT Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI).
Berdasarkan data perdagangan IDX Mobile hingga sekitar pukul 12.15 WIB, saham BSDE mencatat pelemahan paling dalam di antara emiten properti papan atas lainnya. Emiten properti milik Grup Sinarmas tersebut turun 35 poin atau 4,90% ke level 680 dari harga sebelumnya 715.
Tekanan jual juga terlihat pada saham CTRA yang terkoreksi 2,22% ke posisi 660. Saham PWON melemah 1,99% ke level 296, sementara SMRA turun 2,61% ke posisi 298. Adapun saham ASRI bergerak lebih terbatas dengan penurunan 0,88% ke level 113.
Tekanan pada saham properti terjadi di tengah sentimen negatif pasar yang masih dipengaruhi aksi jual investor terhadap saham-saham berbasis domestik dan sensitif suku bunga. Pelemahan IHSG juga menyeret sektor properti dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
: : BI Kerek Suku Bunga, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.629 per Dolar Rabu (20/5)
Kenaikan suku bunga acuan dinilai berpotensi meningkatkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) serta memperlambat permintaan properti.
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai kenaikan BI Rate ini menjadi yang pertama kalinya sejak April 2024, sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas Rupiah, meredam risiko inflasi, serta menjaga laju inflasi dalam kisaran target Pemerintah.
: : BI Ramal The Fed Tahan Suku Bunga Sepanjang 2026
Namun masih perlu dicermati efek kenaikan BI Rate ini terhadap pergerakan Rupiah lebih lanjut, serta perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap sektor properti dan perusahaan yang banyak memiliki hutang.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.