Sentimen negatif eksternal berkurang, IHSG berpeluang menguat sepanjang pekan ini

Scoot.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang rebound pada pekan ini seiring berkurangnya sentimen negatif yang menerpa pasar. Asal tahu saja, pada perdagangan intraday Senin (4/5/2026), IHSG sementara menguat 0,64% ke level 7.001,31.

Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, meredanya tensi geopolitik setelah adanya sinyal dari pemerintah Amerika Serikat (AS) yang mengarah pada penghentian konflik dengan Iran menjadi katalis positif baru bagi pasar global, terutama melalui penurunan harga minyak dunia. 

Bagi pasar saham Indonesia, kondisi ini berpotensi menjadi angin segar setelah sebelumnya terbebani lonjakan inflasi global dan tekanan suku bunga. Dengan turunnya harga minyak, kekhawatiran inflasi dapat mereda sehingga ekspektasi kebijakan moneter global menjadi lebih stabil. 

Pasar Kripto Berpeluang Bullish, Ini Proyeksi Bitcoin dan Ethereum hingga Akhir 2026

“Dalam konteks ini, IHSG pada pekan ini berpeluang bergerak lebih konstruktif dengan kecenderungan rebound teknikal, terutama setelah sebelumnya terkoreksi cukup dalam ke area 6.900-an,” ungkapnya, hari ini.

Hendra menambahkan, sentimen risk-off yang sempat mendominasi pasar berpotensi berkurang. Hal ini akan membuka ruang bagi penguatan IHSG, meskipun tetap dibayangi volatilitas karena pelaku pasar masih akan mencermati konsistensi deeskalasi konflik tersebut.

Di samping itu, meredanya ketegangan global dan turunnya harga minyak dapat menjadi pemicu awal kembalinya minat investor asing ke emerging markets, termasuk Indonesia. Namun, aliran masuk ini diperkirakan masih bersifat selektif dan bertahap dan belum agresif, mengingat investor global tetap mempertimbangkan faktor lain seperti arah suku bunga AS, pergerakan dolar AS, serta stabilitas nilai tukar rupiah. 

Alhasil, potensi net buy asing mulai terbuka ke pasar saham, namun hal ini belum cukup kuat untuk langsung mendorong reli besar. 

“Investor asing cenderung akan masuk ke saham-saham berfundamental kuat dan likuid, khususnya sektor perbankan besar dan konsumer yang sebelumnya sudah mengalami koreksi cukup dalam,” tutur dia.

Bagi investor domestik, kondisi sepert ini menjadi momentum untuk mulai melakukan akumulasi bertahap, terutama pada saham-saham unggulan yang valuasinya sudah terdiskon signifikan setelah koreksi year to date (ytd) yang mendekati 20%. 

Pasar Kripto Berpeluang Bullish, Ini Proyeksi Bitcoin dan Ethereum hingga Akhir 2026

Investor pun disarankan tidak terburu-buru masuk secara penuh, melainkan melakukan pembelian secara bertahap sambil tetap menjaga likuiditas untuk mengantisipasi volatilitas jangka pendek. Perlu diingat juga bahwa diversifikasi sektor juga penting bagi investor melalui kombinasi saham defensif dan siklikal agar portofolio lebih tahan terhadap perubahan sentimen global yang cepat.

Lantas, Hendra memperkirakan pada pekan ini IHSG akan bergerak di kisaran support 6.850–6.900 dan resistance 7.050–7.300. Peluang penguatan menuju area 7.100 terbuka jika sentimen positif global bertahan dan tidak ada tekanan tambahan dari eksternal. 

Sebaliknya, jika terjadi perubahan arah, misalnya harga minyak kembali naik atau dolar menguat tajam, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support psikologis di bawah 6.900.

Menurut Hendra, secara historis bulan Mei dikenal memiliki kecenderungan volatile dengan bias yang tidak selalu kuat, sejalan dengan fenomena Sell in May and Go Away yang sering menjadi acuan investor global. 

IHSG Melonjak 1,2% ke 7.041,2 di Pagi Ini (4/5), Top Gainers LQ45: BRPT, INKP, CPIN

Dalam beberapa tahun terakhir, IHSG pada bulan Mei cenderung bergerak sideways hingga melemah terbatas, terutama ketika tidak didukung katalis domestik yang kuat. Oleh karena itu, meskipun peluang rebound jangka pendek terbuka, pergerakan indeks cenderung tidak langsung membentuk tren kenaikan yang solid.

Dari sisi saham, lanjut Hendra, rotasi sektor kemungkinan akan mulai bergeser seiring turunnya harga minyak. Saham berbasis energi yang sebelumnya diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas berpotensi mengalami normalisasi, sementara sektor yang sensitif terhadap inflasi dan suku bunga seperti perbankan, konsumer, dan properti berpeluang mendapatkan sentimen positif. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *