
Scoot.co.id , JAKARTA — Data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan kenaikan memperkuat keyakinan pasar bahwa suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.
Indikator inflasi favorit bank sentral AS atau The Fed, yakni Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, tercatat naik 3,8% secara tahunan pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 3,5%. Kenaikan juga terjadi pada Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi menjadi 3,3%, salah satu level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai data tersebut langsung mengguncang sentimen investor global. Menurutnya, harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed kini semakin mundur seiring kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
: Harga Emas Berfluktuasi di Tengah Konflik AS-Iran, Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
“Inflasi tinggi, dinamika geopolitik di Timur Tengah, dan dampak tarif perdagangan baru AS mulai menciptakan tekanan besar terhadap aset-aset berisiko, termasuk saham teknologi dan pasar kripto,” ujarnya dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (30/5/2026).
Di pasar saham AS, reli sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang masih menjadi magnet utama investor. Belanja AI, pembangunan infrastruktur digital, hingga ekspansi korporasi teknologi raksasa masih menopang ekonomi Negeri Paman Sam.
: : Harapan Trump Bagi Ketua The Fed Baru Kevin Warsh
Namun, tingginya biaya modal mulai memberi tekanan terhadap saham-saham bertumbuh tinggi yang selama dua tahun terakhir menjadi motor penggerak Wall Street.
Saham berbasis AI seperti NVIDIA, Microsoft, dan Palantir Technologies masih menjadi pusat perhatian investor global. Akan tetapi, kenaikan yield Treasury AS mulai memicu rotasi dana ke sektor yang lebih defensif.
: : Profil Kevin Warsh, Ketua The Fed Terkaya yang Punya Harta US$209 Juta
Di sisi lain, saham kendaraan listrik seperti Tesla menghadapi tekanan dari perlambatan konsumsi dan mahalnya biaya pinjaman. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi juga mulai menghadapi tantangan refinancing utang yang lebih berat.
Fahmi juga menyoroti spekulasi IPO SpaceX yang terus menghangat di Wall Street. Valuasi SpaceX yang melonjak di pasar privat dinilai mencerminkan agresivitas investor global dalam memburu sektor strategis seperti AI, satelit, pertahanan, dan infrastruktur luar angkasa.
“Jika IPO SpaceX terealisasi dalam beberapa pekan ke depan, ini berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar dalam sejarah pasar modal modern dan bisa menyedot likuiditas besar dari sektor teknologi lainnya secara temporer,” jelasnya.
Fahmi memaparkan pasar global kini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi AS. Menurutnya, terdapat dua skenario utama yang dapat menentukan arah pasar ke depan.
Jika inflasi tetap tinggi dan The Fed mempertahankan kebijakan hawkish lebih lama, pasar saham maupun kripto berpotensi mengalami koreksi lanjutan akibat tekanan likuiditas global.
Sebaliknya, apabila inflasi mulai melandai dalam beberapa bulan mendatang, pasar berpotensi memasuki fase ekspansi baru yang ditopang kombinasi booming AI, adopsi kripto institusional, dan ekspektasi pelonggaran moneter.
Bagi investor Indonesia, kondisi ini menunjukkan bahwa pasar global kini semakin saling terhubung. Pergerakan rupiah, yield obligasi AS, inflasi Amerika, saham teknologi Wall Street, hingga harga Bitcoin kini bergerak dalam satu ekosistem makro yang sama.
“Dalam fase seperti ini, disiplin manajemen risiko dan kemampuan membaca perubahan arus likuiditas global menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding sekadar mengikuti tren pasar jangka pendek,” terangnya.