
Scoot.co.id JAKARTA. Di tengah volatilitas pasar global dan domestik, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) menyusun strategi untuk mempertahankan kinerja sepanjang tahun 2026.
Dampak gejolak dari kondisi pasar di awal tahun 2026 pun tampak sudah tercermin dari kinerja TOTL sepanjang Januari-Maret ini. Emiten konstruksi mencatatkan kenaikan laba bersih kala pendapatan turun sepanjang Januari-Maret 2026.
TOTL membukukan pendapatan usaha Rp 837,71 miliar sepanjang kuartal I 2026. Ini turun 1,14% secara tahunan dari Rp 847,43 miliar di kuartal I 2025.
Hasil RUPS, IMC Pelita (PSSI) Setujui Pembagian Dividen Tunai Rp 25,6 Miliar
Rinciannya, segmen pendapatan jasa konstruksi menyumbang Rp 833,11 miliar dan segmen pendapatan lainnya Rp 4,59 miliar.
Laba bruto pun tergerus 3,89% secara year on year (yoy) menjadi Rp 152,80 miliar di akhir Maret 2026, dari sebelumnya Rp 158,99 miliar.
Namun, sejumlah pos laba tercatat naik di periode ini. Laba proyek ventura bersama naik menjadi Rp 62,88 miliar dan laba kotor setelah laba proyek ventura bersama menjadi Rp 215,68 miliar.
Pos pendapatan lain-lain TOTL juga tercatat naik menjadi Rp 30,37 miliar periode ini, dari sebelumnya Rp 22,98 miliar di kuartal I 2025.
Alhasil, laba bersih menjadi Rp 104,1 miliar di kuartal I 2026, naik 37,33% yoy dari Rp 75,78 miliar.
Direktur TOTL mengatakan, Moeljati Soetrisno mengatakan, untuk menjaga kinerja di kuartal-kuartal selanjutnya tahun ini, perusahaan mengambil sejumlah strategi.
Sejak awal tahun 2026, TOTL memiliki backlog proyek dari tahun sebelumnya. Jumlahnya sekitar Rp 3 triliun dan diharapkan bisa masuk menjadi pendapatan di tahun 2026.
Meskipun begitu, Total tetap menetapkan target yang konservatif di tahun 2026 yang penuh ketidakpastian ini. TOTL menargetkan pendapatan dan laba bersih masing-masing sebesar Rp3,90 triliun dan Rp 400 miliar.
Jelang Rights Issue, Pemain Kripto Gabriel Rey Akumulasi Saham CBRE
“Kami optimistis sembari tetap melakukan kehati-hatian untuk mengambil proyek dengan melihat market yang sedang volatile,” katanya, Rabu (6/5/2026).
TOTL juga merevisi target nilai kontak baru untuk tahun ini. Sebelumnya, perusahaan menetapkan target nilai kontrak baru Rp 5 triliun untuk tahun ini. Kemudian, direvisi menjadi Rp 4 triliun.
Investor Relations TOTL, Kevin Alexander mengatakan, penurunan target nilai kontrak baru itu dengan mempertimbangkan keadaan global.
“Jika nanti situasinya membaik, kami akan kembali merevisi target di kuartal III nanti,” ungkapnya dalam kesempatan yang sama.
Sepanjang kuartal I 2026, TOTL meraih nilai kontrak Rp 1,5 triliun berupa pembangunan gedung data center, hotel, dan perkantoran. Nilai kontrak perusahaan pun bertambah menjadi Rp 2,6 triliun hingga April 2026.
Saat ini, semua proyek TOTL merupakan proyek swasta. Moeljati bilang, Total tak punya pembatasan untuk pengambilan proyek. Jika ada permintaan dari pemilik proyek mana pun, TOTL akan mengerjakan proyek dengan baik.
“Selama kami punya visi dan misi sama terhadap kualitas output gedung, kami pasti akan mengerjakan. Namun untuk saat ini, fokus kami masih di proyek swasta,” paparnya.
Kevin menambahkan, pipeline proyek Total sangat bervariasi, mulai dari data center, industrial, hotel, apartemen, dan sekolah. Proyek data center dan industrial diakui tengah populer saat ini.
“Namun pipeline kami bersifat dinamis. Bisa di bulan April itu data center paling banyak, tapi di Mei bisa jadi industrial paling banyak,” ungkapnya.
Untuk menjalankan proyek di tahun 2026, Total menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 25 miliar. Anggaran tersebut naik dari tahun 2025 yang sebesar Rp 10 miliar. Seluruh sumber dana itu berasal dari kas internal perusahaan.
IHSG Ambruk 2,86% ke 6.969, Top Losers LQ45: INCO, MDKA, dan MBMA, Jumat (8/5)
Penggunaan dananya untuk alat-alat berat proyek, serta software dan hardware IT. Saat ini, Total sudah merealisasikan capex sekitar Rp 9 miliar.
Terkait pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), TOTL mengakui bahwa kenaikan harga bahan baku akan memengaruhi kinerja perseroan, terutama bahan baku impor.
Namun, kata Moeljati, Total sudah mengantisipasi hal itu dengan melakukan pembaruan dengan bagian purchasing pada saat penandatanganan kontrak.
“Lonjakan harga itu pasti, tetapi kami antisipasi dengan adanya biaya yang dicadangkan dan contingency, terkait fluktuasi tersebut,” katanya.
Perusahaan pun berharap agar pelemahan rupiah tak berlanjut lebih dalam agar margin tak tergerus.
Di sisi lain, Total melihat bahwa produk domestik bruto (PDB) yang tumbuh 5,61% secara tahunan pada kuartal I 2026 bisa menjadi sinyal positif untuk industri konstruksi di sisa tahun ini.
Moeljati bilang, bisnis konstruksi sangat mengikuti pertumbuhan dari bisnis lainnya. Sebagai contoh, sektor komoditas pertambangan mendominasi pertumbuhan PDB Indonesia di kuartal I 2026.
Ini berarti pembangunan gedung dan sarana lain terkait sektor tersebut bisa ikut dibangun oleh perusahaan konstruksi, termasuk TOTL. Meskipun begitu, Total Persada mengaku tetap berhati-hati dalam mengambil proyek dan klien baru.
Rupiah Spot Kembali Ditutup Melemah ke Rp 17.382 per Dolar AS pada Jumat (8/5/2026)
Anggie S. Sidharta, Corporate Secretary TOTL menambahkan, perseroan masih belum memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat.
“Fokus utama manajemen saat ini adalah menjaga ritme pengerjaan proyek dan mencapai target yang telah ditetapkan,” katanya dalam kesempatan yang sama.
Per 31 Maret 2026, TOTL punya jumlah aset Rp 4,32 triliun. Ini naik dari Rp 4,04 triliun per 31 Maret 2025.
Jumlah liabilitas perusahaan sebesar Rp 2,89 triliun di akhir Maret 2026, naik dari Rp 2,71 triliun di akhir Desember 2025. Sementara, jumlah ekuitas tercatat Rp 1,43 triliun per kuartal I 2026, naik dari Rp 1,32 triliun di akhir tahun 2025.
TOTL memiliki kas dan setara kas akhir periode sebesar Rp 1,3 triliun di akhir Maret 2026, naik dari Rp 1,17 triliun di periode sama tahun lalu.
Melansir RTI, saham TOTL naik 12,61% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun 2026, TOTL sahamnya naik 23,15% year to date (YTD).