Bos SMBC: Perbankan harus siap hadapi potensi kenaikan BI rate

Scoot.co.id , JAKARTA — Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Rabu (20/5/2026), di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar global.

Menanggapi potensi tersebut, President Director SMBC Indonesia Henoch Munandar menilai langkah bank sentral kemungkinan diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, dia meyakini BI memiliki strategi yang solid dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik.

“Selain BI rate, tentu salah satu faktor yang dipertimbangkan adalah bagaimana menetralisir tekanan terhadap rupiah. Tapi saya percaya Bank Indonesia memiliki strategi yang solid untuk menjaga nilai tukar di negara kita,” ujar Henoch dalam wawancara eksklusif, Selasa (19/5/2026).

: Pasar SBN Tertekan Risiko Fiskal dan Arah Suku Bunga AS

Menurut dia, perbankan harus memiliki manajemen risiko yang kuat dalam menghadapi berbagai kemungkinan kebijakan moneter. 

Dia mengatakan SMBC telah memperkuat tata kelola, risk management, compliance, hingga pengelolaan market risk untuk mengantisipasi volatilitas nilai tukar dan suku bunga.

: : IHSG Terkoreksi 0,35%, Saham BMRI dan BBRI Cs Menguat di Tengah Ekspektasi Suku Bunga

Henoch menilai pelaku industri perbankan pada dasarnya sudah mengantisipasi kemungkinan kenaikan BI Rate. Pasalnya, ruang penurunan suku bunga dinilai semakin terbatas seiring tekanan terhadap rupiah yang masih cukup menantang dalam beberapa pekan terakhir.

Strategi Kelola Dana Murah

Dalam menghadapi potensi kenaikan suku bunga, Henoch mengatakan salah satu fokus utama perbankan adalah mengelola biaya dana atau cost of fund. Menurutnya, strategi penguatan dana murah menjadi penting agar dampak kenaikan bunga acuan dapat diminimalkan.

: : IHSG dan Rupiah Melemah, BI Diprediksi Kerek Suku Bunga

Dia menjelaskan SMBC Indonesia memperkuat strategi transactional banking untuk meningkatkan dana berbasis transaksi nasabah. Dengan demikian, bank tidak terlalu bergantung pada deposito yang biayanya lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga acuan.

“Kalau hanya mengandalkan satu sumber seperti deposito, maka perbankan harus berhitung ulang biaya dana jika central bank menaikkan suku bunga,” katanya.

Di sisi lain, Henoch mengingatkan kenaikan suku bunga yang terlalu tinggi berpotensi meningkatkan risiko kredit di industri perbankan. Karena itu, menurutnya, bank perlu terus mengevaluasi ketahanan nasabah dalam menghadapi potensi kenaikan bunga pinjaman.

“Nah itu, makanya tadi saya katakan bahwa kita harus menata risk management kita untuk melihat resiliensi dari kemampuan nasabah kita dalam mengantisipasi kenaikan suku bunga,” ujar dia.

Risiko Valas Dinilai Lebih Terkendali

Henoch juga menyoroti volatilitas dolar AS yang kembali meningkat di pasar global. Namun, dia menilai korporasi Indonesia saat ini jauh lebih disiplin dalam mengelola pinjaman valuta asing dibandingkan periode krisis 1998.

Menurutnya, banyak perusahaan kini sudah menerapkan praktik lindung nilai atau hedging dan menyesuaikan struktur pinjaman dengan sumber pendapatan mereka. Selain itu, regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan juga dinilai memperkuat disiplin pengelolaan risiko valuta asing di sektor korporasi.

“Kalau ada perusahaan eksportir 80%, ya mungkin boleh pinjamannya 50% dalam bentuk valuta asing. Tapi kalau 100% rupiah, ya kita harus menyiapkan pinjaman rupiah,” katanya.

Meski demikian, Henoch mengakui masih ada sebagian kecil nasabah yang belum melakukan hedging sehingga tetap rentan terhadap gejolak kurs. Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi biaya impor bahan baku dan faktor produksi.

Menurut dia, kondisi tersebut telah menjadi bagian dari stress test yang dilakukan industri perbankan, baik terhadap skenario pelemahan nilai tukar maupun suku bunga tinggi.

Dia menambahkan, industri perbankan saat ini masih memiliki bantalan modal yang cukup kuat. Dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri yang berada di kisaran 20%, Henoch optimistis sektor perbankan masih cukup resilien dalam menghadapi tekanan eksternal.

“Sepanjang ada shock yang masih bisa diatasi, tentu akan ada penurunan. Tetapi bantalannya saya melihat masih baik, masih tebal,” kata Henoch.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *