Pasar tertekan, investor reksadana perlu kelola risiko secara disiplin

Scoot.co.id JAKARTA. Investor disarankan untuk mengelola risiko secara disiplin di tengah melemahnya IHSG, nilai tukar rupiah, dan obligasi. 

Seperti diketahui, IHSG pada Selasa (19/5/2026) terkoreksi 3,46% secara harian ke level 6.370. Senada, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot melemah 0,22% secara harian ke Rp 17.706 per dolar AS. Sementara yield SBN tenor 10 tahun saat ini di level 6,72%.

Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution, Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi melihat strategi investasi reksadana memang perlu lebih adaptif dibanding beberapa tahun terakhir. 

“Di tengah pelemahan rupiah, tekanan di pasar obligasi, dan volatilitas pasar saham, fokus investor idealnya tidak lagi semata mengejar return maksimal jangka pendek, tetapi lebih pada menjaga kualitas portofolio dan pengelolaan risiko secara disiplin,” ujar Reza kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Buyback Jadi Penopang Saham Buma Internasional (DOID), Cek Rekomendasinya

Dari perspektif Henan Asset, kondisi seperti ini justru menegaskan pentingnya pendekatan alokasi aset yang fleksibel dan berbasis risk management.

Reza melihat korelasi antar aset saat ini cenderung meningkat, sehingga diversifikasi tradisional tidak selalu cukup efektif apabila portofolio terlalu terkonsentrasi pada satu kelas asset tertentu. Karena itu, strategi yang relevan saat ini adalah membangun eksposur multi-asset secara bertahap. Reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap berdurasi pendek masih berperan penting sebagai anchor stabilitas portofolio, terutama di tengah ketidakpastian arah suku bunga dan nilai tukar. 

Sementara itu, eksposur ke reksadana saham tetap menarik untuk investor dengan horizon menengah-panjang, namun akumulasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan selektif mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi. 

“Dalam konteks tersebut, reksadana campuran juga menjadi instrumen yang relevan karena memberi fleksibilitas kepada manajer investasi dalam menyesuaikan komposisi aset sesuai dinamika pasar,” terang Reza.

Hasil Pertemuan BEI, Pemerintah & DPR: Free Float 20%–30% Diusul Dapat Insentif Pajak

Dari sisi sentimen, Reza mengatakan, investor perlu mencermati kombinasi faktor global dan domestik. Secara global, arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan yield US Treasury, tensi geopolitik, serta arah pertumbuhan ekonomi global masih menjadi penentu utama aliran dana ke emerging markets termasuk Indonesia. 

Sementara dari domestik, stabilitas rupiah, kondisi fiskal, inflasi, serta arus dana asing di pasar saham dan obligasi menjadi indikator penting dalam membaca arah pasar ke depan.

Dalam konteks pemilihan produk, Reza melihat reksadana pasar uang masih menarik bagi investor konservatif karena menawarkan likuiditas dan stabilitas yang relatif baik. 

Reksadana pendapatan tetap mulai menarik dicermati terutama pada instrumen dengan durasi pendek hingga menengah, seiring kenaikan yield yang mulai membuka peluang imbal hasil lebih kompetitif ke depan. 

Untuk investor moderat, reksadana campuran dapat menjadi alternatif karena lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. 

Sedangkan reksadana saham masih menawarkan potensi return paling tinggi dalam jangka menengah-panjang, terutama ketika valuasi pasar mulai berada pada level yang lebih menarik.

Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, reksadana dalam mata uang dolar AS juga bisa menjadi pilihan investasi karena menyuguhkan beberapa manfaat. Dari sisi nilai tukar, dolar AS cenderung resilien di tengah volatilitas global. 

“Dari sisi kelas aset, reksadana dalam dolar AS tersedia di berbagai kelas aset, mulai dari pasar uang, obligasi dan saham, dan menyajikan peluang diversifikasi kelas aset yang baik di tengah dinamika pasar,” ujar Dimas.

Kemudian, dari sisi geografis, reksadana saham offshore dalam dolar AS tentunya menyuguhkan peluang bagi investor untuk menikmati potensi dari pasar negara dan kawasan lainnya. 

Adapun, untuk proyeksi return, Reza mengatakan bahwa investor perlu lebih realistis dalam menetapkan ekspektasi di tengah pasar yang masih volatil. Reksadana pasar uang diperkirakan mampu memberikan imbal hasil relatif stabil di kisaran 3%–4% per tahun. 

Sementara itu, reksadana pendapatan tetap berpotensi berada di kisaran 4%–6%, dengan upside apabila terjadi normalisasi yield di paruh kedua tahun ini. 

Lalu, untuk reksadana campuran, Reza memproyeksikan return berada di kisaran 6%–10% tergantung fleksibilitas strategi alokasi aset masing-masing manajer investasi. 

Sementara pada reksadana saham, potensi return masih menjadi yang paling tinggi dalam jangka menengah-panjang meski volatilitas jangka pendek tetap besar. 

Menurut Reza, capaian tersebut menunjukkan bahwa di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan, active asset allocation, disiplin risk management, dan fleksibilitas strategi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga konsistensi kinerja reksadana. 

“Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini menuntut investor untuk lebih disiplin dalam melakukan asset allocation dan menjaga horizon investasi tetap jangka menengah-panjang, karena keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh momentum pasar, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan risiko dan konsistensi strategi investasi,” pungkas Reza.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *