
Scoot.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan pada perdagangan hari ini. Pelemahan mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari memanasnya konflik di Timur Tengah hingga kondisi ekonomi dalam negeri yang dinilai masih rentan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (12/5/2026) pukul 12.41 WIB, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.513 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan sentimen domestik.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut hingga menyentuh Rp 17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, pasar masih dibayangi memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
IHSG Ambles 1,43% Sesi I Selasa (12/5), Rupiah Jebol Rp 17.500 per Dolar AS
Ia menilai penolakan Amerika Serikat terhadap proposal Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar memicu kembali eskalasi konflik di kawasan tersebut.
“Penolakan ini yang membuat ketegangan baru ya karena secara tak terduga pun juga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim, Selasa (12/5/2026).
Kondisi tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS sekaligus mengerek harga minyak mentah dunia, khususnya minyak Brent. Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan menambah tekanan terhadap negara-negara importir energi seperti Indonesia.
“Ketegangan di Selat Hormuz membuat indeks dolar kembali menguat cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% belum cukup kuat menopang penguatan rupiah. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang oleh konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara kontribusi investasi dinilai belum optimal.
Selain itu, kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi perhatian. Ibrahim menyebut sejak Januari hingga April 2026 sekitar 40.000 pekerja di sektor manufaktur, tekstil, garmen, dan elektronik terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Rupiah Bertahan di Level Rp 17.506 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (12/5)
Ia memperkirakan gelombang PHK masih berpotensi berlanjut dalam beberapa bulan mendatang di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.
“Mayoritas masyarakat Indonesia juga bekerja di sektor informal. Jumlah pekerja informal mencapai sekitar 87,74 juta orang, sehingga kondisi ini membuat fundamental ekonomi domestik masih rentan,” ungkapnya.
Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah menanti keputusan dari MSCI terkait penilaian terhadap pasar saham Indonesia. Sentimen tersebut dinilai turut menekan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.