Saham BUMI hingga RMKE jadi jagoan analis saat IHSG tertekan MSCI

Scoot.co.id , JAKARTA – Pasar saham pekan ini diperkirakan masih akan berfluktuasi sebagai imbas dari rebalancing MSCI. Kendati demikian, sejumlah saham seperti BUMI, MINA dan RMKE tetap direkomendasikan analis karena pertimbangannya masing-masing.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan bahwa penurunan tajam indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam pekan lalu disebabkan oleh kombinasi tekanan global dan domestik yang datang bersamaan.

Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik. Investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei, sehingga menciptakan gelombang passive outflow yang cukup agresif.

: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Senin 18 Mei 2026

Tekanan tersebut semakin diperberat oleh kondisi global yang belum kondusif. Pasar kembali menghadapi skenario higher for longer setelah inflasi Amerika Serikat masih bertahan tinggi. Selain itu, konflik geopolitik Timur Tengah dan terganggunya jalur distribusi energi global akibat krisis Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam di atas US$105 per barel.

Imam mencatat bahwa aliran dana asing selama pekan lalu juga menggambarkan investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia, melainkan melakukan rotasi secara selektif. Foreign sell Rp3,21 triliun lebih banyak terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak MSCI deletion dan sektor perbankan besar.

: : IHSG Potensi Pulih ke 7.300 Usai Pengumuman MSCI, Intip Skenarionya

“Di sisi lain, saham-saham defensif dengan valuasi atraktif dan arus kas stabil seperti ADRO, TLKM, dan INKP justru masih mencatatkan inflow asing. Ini menunjukkan bahwa strategi flight to quality mulai mendominasi perilaku investor asing di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya volatilitas pasar domestik,” ujarnya, Senin (18/5/2026).

Sementara untuk perdagangan 18-22 Mei 2026, Imam menilai fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.

: : IHSG Sudah Jatuh Tertimpa MSCI, Uji Taji Optimisme Reformasi Pasar Modal

“Namun menariknya, di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR,” ujarnya.

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.

Secara teknikal, sambungnya, IHSG saat ini masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek. 

Menurutnya, tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan PDB Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61%, pasar domestik menurutnya masih memiliki fundamental yang cukup resilien.

“Namun, hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading,” tandasnya.

Berikut adalah rekomendasi IPOT Sekuritas untuk perdagangan pekan ini:

1. Buy BUMI

Entry: Rp214

Target price: Rp242

Stoploss:

Saham BUMI direkomendasikan sebagai trading proxy utama untuk memanfaatkan momentum bullish harga batu bara dan potensi technical rebound pasca tekanan MSCI rebalancing. Imam menjelaskan, BUMI berpotensi memperoleh rotasi inflow seiring kemungkinan peningkatan bobot indeks serta didukung sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global di tengah krisis distribusi energi dunia.

2. Buy MINA

Entry: Rp384

Target price: Rp384

Stoploss:

Imam menilai saham MINA menarik seiring berlanjutnya pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang naik 10,5% YoY pada Maret 2026 dan mencapai 3,44 juta wisatawan sepanjang kuartal I-2026. Menurutnya, peningkatan arus turis, khususnya dari Malaysia, Australia, dan China, berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor hospitality dan lifestyle consumption yang menjadi salah satu eksposur bisnis MINA.

“Ini membuka peluang peningkatan permintaan domestik maupun recurring revenue perseroan di tengah pemulihan aktivitas pariwisata nasional,” ujarnya.

3. Buy RMKE

Entry: Rp3.300

Target price: Rp3.650

Stoploss:

Imam menjelaskan bahwa sektor energi menarik dicermati sebagai beneficiary dari implementasi Peraturan Gubernur Sumatera yang mewajibkan distribusi batu bara menggunakan jalur hauling khusus dan kereta api, bukan lagi jalan umum. 

Regulasi ini secara struktural memperkuat positioning RMKE karena perseroan telah memiliki ekosistem logistik batu bara terintegrasi mulai dari hauling road, stasiun muat kereta api, hingga pelabuhan, sehingga berpotensi meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry di tengah kebutuhan efisiensi distribusi batu bara nasional.

4. Buy reksa dana saham ETF Consumer Indonesia (XIIC)

Entry: Rp806

Target price: Rp854

Stoploss:

Produk ETF XIIC terdiversifikasi pada saham-saham consumer dan domestik-driven yang menjadi backbone perputaran ekonomi. Imam mencatat, XIIC mulai menunjukkan indikasi technical base formation setelah bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir. 

“Area ini terlihat cukup solid menahan tekanan jual pasca koreksi tajam sejak Maret, sehingga membuka peluang terbentuknya fase akumulasi baru apabila market mulai stabil. Dari sisi momentum, MACD juga mulai membentuk bullish divergence, di mana garis MACD membentuk higher low secara bertahap sedangkan harga cenderung flat,” tandasnya.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *